Menghadapi “Sergapan” Halal-Haram

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Apa yang dapat tenaga kesehatan lakukan bila di forum seorang warga tiba-tiba mengangkat isu halal-haram. “Bu Dokter, bukannya vaksin yang itu dibuat dari bahan tidak halal?”

Berikut langkah-langkah yang bisa dipertimbangkan.

Pertama, supaya Anda tetap dapat berkomunikasi secara rileks dan kreatif, bersyukurlah.

Bersyukur karena ada orang yang mengangkat isu halal-haram. Kebanyakan orang enggan menyampaikan isu itu. Apalagi bila ada tanda-tanda keagamanaan pada komunikator, seperti mengenakan jilbab. Orang tidak enakan. Mungkin karena itu, isu halal-haram tak begitu menonjol di hasil-hasil survei (kuantitatif) tapi terdengar sayup-sayup.

Kedua, jangan langsung luruskan apalagi membantah. Dengarkan dulu. Dengarkan tulus untuk lebih memahami. Bukan untuk menguji atau memojokkan. Bertanyalah singkat agar orang bercerita lebih banyak.

“Yang Ibu dengar, bahannya dari apa?”
“Dari mana Ibu mendapatkan info-nya?” Dll.

Ketiga, sampaikan validasi atau rekognisi bila yang disampaikan warga memang benar adanya. “ Oh, saya juga mendengar itu. Memang [LEMBAGA] mengatakan [FATWANYA].”

Harapannya, orang merasa dihargai dan yang tak kalah penting, agar tak muncul gelombang emosi negatif di forum. Kalau kita defensif, khawatirnya back fire dan forum berubah jadi antipati.

Mohon diingat, kepada orang-orang yang sudah bersikap negatif, kegiatan komunikasi sebaiknya bukan untuk mengubah sikap tapi membuka peluang untuk menyampaikan pesan alternatif. Ada pagar yang menghalangi dan komunikasi dutujukan untuk mengajak orang membuka pagarnya. Setelah pesan masuk (tanpa penolakan), perlu berikan waktu untuk orang merenung dan berpikir.

Langkah keempat, komunikator, yang bukan ahli agama, hanya bisa memberikan pesan alternatif.

Misalnya:

“Kelihatannya ada pandangan beragam ya, Ibu Tasya. Kalau mau ke tanah suci, misalnya untuk ibadah, Kerajaan Arab Saudi awalnya hanya mengakui 4 vaksin itu. Jadi, hanya vaksin-vaksin itu saja yang disuntikkan ke penduduk di dua tanah suci, termasuk para ulama dan warga negara lain yang umroh. Belakangan, barulah dibolehkan vaksin-vaksin lain.”

Atau untuk imunisasi anak:

“Mungkin ada perbedaan pendapat di antara para ulama ya, bu Tasya. Vaksin [SEBUT NAMA], yang diproduksi di India adalah satu-satunya yang tersedia luas di dunia. Dan 87 negara, termasuk negara-negara Islam, Saudi Arabia, Mesir, Irak, Turki dan lain-lain menggunakan vaksin itu.

Pesan alternatif jangan sampai menimbulkan reaksi negatif. Karenanya, perlu disampaikan dengan rendah hati. Yang penting, lewati dulu “pagar” orang.


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas