“Kami diminta pergi. Padahal, anaknya kan stunting.”
Seminggu ini dua orang mengeluhkan hal sama. Keduanya bingung, maksud kita kan baik?
Kita mulai dari gagasan yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut orang lain. Yang penting menurut kita, belum tentu penting menurut orang lain. Untuk mempertemukan dua versi itu, perlu komunikasi yang pas.
Lupakan tata laksana atau bahasan ilmiah. Mari bicara perasaan. Bagaimana perasaan seorang ibu mendapati anaknya stunting? Sedihkah? Mudahkah dia menerimanya dengan lapang dada?
Ada seorang ibu tak mau Posyandu lagi gara-gara nakes ketelepasan pelan, “Ini stunting, deh.”
Ada pula yang tersinggung karena melihat muka nakes kaget saat mengukur panjang badan anaknya.
Stunting adalah masalah sensitif, maka komunikasi mesti pas. Berikut usulan versi KAP:
Pertama, Ngobrol akrab. Awali dengan santai. Jangan memperlihatkan wajah khawatir. Rileks saja.
Mulai ngobrol topik yang disukai si ibu. Lalu, nyambung. Pakai nama dalam percakapan. Cari & beri pujian (bertanya-tanya dulu). Cari persamaan/ simpul. Ngobrol dengan anak. Bagaimanapun caranya, bangun keakraban.
Kalau hari ini belum akrab (masih kaku, belum tek-tokkan), coba lagi lusanya. Intinya, jangan ngobrol masalah sebelum akrab. Ingat, kata stunting, pendek, kerdil dilarang terucap di tahap awal ini.
Kedua, ngobrol masalah. Jangan picu emosi. Makanya, jangan sebut stunting, atau sebutan buruk lainnya itu.
Pada masalah gizi buruk, istilahnya: timbangannya perlu ditambah sedikit atau timbangannya kurang. Kalau anak memang kurang berat badan, maka istilah yang sama bisa digunakan. Atau bisa juga mengatakan agar pertumbuhan lebih mantap.
Menjelaskan stunting memang agak pelik, karena mengejar panjang badan sangat sulit dan lama. Akan berisiko mengatakan meterannya kurang atau perlu ditambah.
Jelaskan masalah tanpa memicu perasaan bersalah. Misal, sampaikan Ibu sudah berusaha terbaik tapi ada hal diluar kuasa manusia (ingat faktor lain selain asupan makanan: infeksi, diare, dan cacingan). Atau bilang ini masalah banyak orang tua, musimnya, atau pengalaman yang sama.
Bagi kader, jangan lupa gunakan Jurus Katanya & Juru Padi Merunduk agar orang tua lebih terbuka mendengarkan.
Lalu, tumbuhkan harapan dengan menyebut solusi/ cara yang tak sulit tapi mesti konsisten (kasus gizi buruk lebih mudah karena berat badan lebih mudah dicapai. Untuk stunting jauh lebih sulit.)
Lalu, gantung sebentar. Kalau menerima dan membuka diri, si ibu akan menanyakan solusi. Di sinilah, edukator menjelaskannya dengan cerita dan perumpamaan. Secara bertahap tentu saja. Untuk itu, edukator perlu siap dengan beragam cerita (gizi seimbang, imunisasi, CTPS, ke Posyandu, dll).
Lalu, perlu ada ngobrol sepakat atau kunci komitmen?
Tidak perlu, perjalanan masih panjang. Penanganan stunting itu maraton. Masalah penting tapi ga genting. Makanya, ga perlu grusa-grusu.
Condet, 3 Februari 2026 – RR (Forum KAP/ VA)
*adaptasi dari buku Komunikasi Stunting, batal diterbitkan pengelola projek & Teknik Komunikasi untuk Makanan Terapi Gizi, Kemenkes RI (segera dirilis 2026).
Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP