Sejumlah rekan peneliti, yang tengah mempelajari perilaku 3M+, bercerita bahwa banyak warga yang diwawancarai balik bertanya seputar COVID-19. Yang umum ditanyakan, antara lain, bagaimana sebetulnya virus menular?
Pertanyaan yang mengindikasikan ada masalah pemahaman.
Kerangka logis-nya, pemahaman tentang cara pencegahan dibangun atas dasar pemahaman pada cara penularan. Dua hal itu berhubungan logis. Kita dapat mencegah bila tahu cara menularnya.
Bila hanya tahu cara pencegahan tapi tak tahu cara penularan, dikhawatirkan bangunan pengetahuannya tak berfondasi kuat. Rapuh. Mungkin lebih sebagai hafalan, tidak dipahami betul apalagi diyakini.
Cerita rekan-rekan peneliti mengonfirmasi temuan survei UNICEF Nielsen di 6 kota besar pada Desember 2021. Dalam wawancara tatap muka, dengan 2000 responden ditarik random, responden diminta menggambarkan bagaimana virus corona menular dari satu orang ke orang lain. Temuannya adalah sbb.
Kurang dari separuh atau 43% dari total responden mengetahui virus dibawa oleh percikan atau droplet yang keluar dari mulut atau hidung.
Sekitar 68% menyebut virus keluar saat orang batuk atau bersin. Yang menyebut virus tersebar saat orang (sakit) bicara atau bernafas prosentasenya lebih sedikit (40% dan 31%). Kemungkinan ini yang dijadikan patokan kebanyakan orang menentukan risiko berbicara dengan seseorang. Kalau tidak batuk/bersin, dipandang aman. Di sini, konsep OTG (Orang Tanpa Gejala) tak digunakan.
Berikutnya, jalur transmisi virus diketahui lebih sedikit responden. Sekitar 17% bisa menggambarkan penularan langsung (terhirup atau kena mata, hidung, atau mulut). Sekitar 19% penularan tidak langsung (menempel di tangan dulu lalu masuk mata, hidung, atau mulut). Sekitar 27% menyebut penularan via udara (setempat).
Temuan bahwa publik kurang paham cara penularan penyakit sebetulnya bukan hal baru. Kasus yang mirip dijumpai pada masalah malaria, diare, dan lain-lain. Bukan hal baru tapi kita tidak boleh mendiamkannya karena publik dengan pengetahuan yang rapuh sungguh berisiko.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia