Tim Riset Aksi yang dikontrak UNICEF tengah mempelajari dua desa di Maluku yang memiliki tanggapan berbeda terhadap Vaksinasi COVID-19. Yang pertama, desa induk, cakupannya sekitar 10%. Sementara, di sebelahnya, sebuah desa pemekaran, cakupannya lebih dari 80%.
Posisi keduanya berdekatan. Bahasa, budaya, agama, atau pandangan politik kurang lebih sama.
Demikian pula hambatan perilaku yang dihadapi, yaitu ketakutan pada efek samping vaksin.
Waktu awal vaksin di-introduksi, beredar hoax yang dipercaya warga seperti vaksin yang membuat lumpuh sampai mematikan.
Di desa induk, upaya yang dilakukan agar warga tidak takut (reassurance) adalah dengan menerjunkan tim beranggotakan aparat desa, personil kepolisian, tenaga kesehatan dan pemuka agama. Mereka mendatangi rumah-rumah warga untuk menjelaskan Vaksin COVID-19 aman sekaligus mengajak mereka ke sentra vaksinasi.
Hasilnya, 10% berangkat. Kebanyakan ASN, warga yang kerap bepergian luar kota, dan penerima bantuan sosial.
Sekarang desa pemekaran.
Upaya membuat warga tidak takut efek samping vaksin juga dilakukan berbagai pihak tapi ada yang terlihat lebih menonjol, yaitu pemuka agama setempat.
Mendapat serangkaian WA yang mencerahkan dari organisasinya, seorang pemuka agama berinisiatif menyampaikan pesan vaksinasi COVID-19 pada jemaat melalui khotbah-khotbah. Setelah khotbah, dia pun mendiskusikannya bersama jemaat di sesi-sesi kelompok.
Bersama tim aparat desa, kepolisian dan tenaga kesehatan, mereka mendatangi rumah-rumah warga menjelaskan dan mengajak vaksinasi COVID-19.
Selesai sampai di sini?
Ternyata tidak. Pemuka agama pun mengantar warga yang mau berangkat ke tempat vaksinasi. Bukan hanya mengantar tapi memastikan kondisi mereka siap.
Saat beberapa warga diketahui belum sarapan, pemuka agama bergegas membelikan roti.
Mereka pun pulang bersama-sama.
Selesai sampai di situ?
Ternyata tidak. Tim kembali turun menanyakan kondisi warga pasca-vaksinasi dan memandu saat ada yang mengalami gejala ringan, seperti demam atau pegal-pegal.
Upaya mereka diperhatikan warga lain. Berbondong-bondong warga datang ke sentra vaksinasi.
Profil warga dua desa itu sama. Sama-sama mendapat serangan hoaks pula. Tapi upaya komunikasi berbeda menghasilkan tanggapan berbeda. Yang satu sebatas kunjungan rumah. Yang satu lagi komunikasi lebih intensif. Ada komunikasi kelompok besar, kelompok kecil, kunjungan rumah, pendampingan, pasca-layanan. Semuanya ditunjukkan dengan tulus dan sungguh-sungguh. Tidak mengesankan lip service atau sekedar menjalankan tugas.
Mengamati desa pemekaran, apakah warga desa induk jadi tertarik ikut vaksinasi?
Ternyata, belum. Kata mereka, “Lihat saja 3 tahun lagi itu vaksin bisa membunuhmu.”
Belum lepas dari hoaks ternyata.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia