Seorang rekan nakes melempar sebuah ide dalam bentuk pertanyaan. “Apakah untuk BIAN (Bulan Imunisasi Anak Nasional) kami perlu gandeng aparat untuk menjemput orang tua dan anaknya?”
Pertanyaannya didasari pengalaman positif Vaksinasi COVID-19 yang banyak dibantu aparat, baik dari Kepolisian, TNI maupun perangkat desa/ kelurahan.
Untuk BIAN, menggandeng aparat bisa juga jadi efektif dengan catatan 1) hubungan aparat-warga tidak bermasalah, 2) kecakapan persuasi perlu dikedepankan. Sebaliknya, komunikasi koersif mesti dihilangkan. Rasanya, tak bisa memaksa orang tua untuk mengimunisasi anaknya kalau mereka khawatir terjadi apa-apa pada anaknya nanti.
Bagi sebagian warga, aparat memiliki posisi terhormat. Ini modal bagus komunikasi perubahan perilaku. Bayangkan bila mereka bisa membangun dialog semacam berikut.
Aparat : “Aqsa umurnya berapa?”
Aqsa : “Dua”
Aparat : “Pintar amat ngomongnya. Kalau besar mau jadi apa, Aqsa?”
Bu Lina : “Bapaknya sih mau dia jadi polisi atau tentara.”
Aparat : “Kereeen! Bu Lina sudah lakukan apa agar Aqsa nanti jadi polisi atau tentara?”
Bu Lina : “Hmm…makannya sih yang saya jaga bener.”
Aparat : “Betul itu. Trus apalagi?”
Bu Lina : “Pokoknya mesti sehatlah. Jangan sampai stunting ya?”
Aparat : “Iya, betul. Karena kalau jadi polisi atau tentara, tinggi badan dan otak mesti oke. Selain makan bergizi, juga jangan sampai sakit-sakitan. Kalau sering sakit, nanti stunting. Pertumbuhan otaknya tidak maksimum. Nah, agar anak tidak gampang sakit, karena penyakit yang mudah menular dan berbahaya, kekebalan anak mesti dikuatkan lho, bu Lina. Tahu caranya menguatkan kekebalan tubuh anak?”
Bu Lina : “Imunisasi?”
Aparat : “Betul! Ngomong-ngomong Aqsa sudah lengkap imunisasinya?”
Bu Lina : “Belum, pak Basra.”
Aparat : “Tapi mau?”
Bu Lina : “Mau sih tapi takut apa-apa setelah disuntik?”
Aparat : “Apa yang ditakutkan? Cerita dong.”
Bu Lina : “Saya dengar nanti lumpuh.”
Aparat : “Wah, kalau saya dengar anak jadi lumpuh gara-gara imunisasi, saya juga sama takutnya seperti bu Lina. Tapi apa bener anak akan lumpuh kalau diimunisasi? Mending kita tanya saja ke Bu Bidan ini. Mau dengerin bu Bidan jelasin, ga?”
Bu Lina : “Iya mau pak Basra…”
Di atas terlihat aparat mempraktikkan sejumlah teknik, termasuk mendengarkan, mengapresiasi, berempati, piggy backing (dengan isu popular seperti stunting), dll.
Mungkin ada yang bertanya, berapa lama mesti melatih aparat? Apakah masih tersedia waktu?
Pelatihan di kelasnya sih tak usah lama-lama. Cukup paham basic-nya saja. Yang lebih penting praktik lapangan bersama orang tua. Di sanalah pelatihan sesungguhnya.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia