Senang/Puas + Fokus = Kebiasaan Makan

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Menyuapi anak makan termasuk pekerjaan berat. Apalagi makanan sehat. Tak sedikit ibu yang kalau bisa memilih (tapi tentu saja tak bisa), lebih milih ngepel atau cuci baju ketimbang menyuapi anak.

Karena tidak ada pilihan, pertanyaannya jadi bagaimana caranya agar anak terbiasa makan sehat?

Berikut pembelajaran KAP MTG (Makanan Terapi Gizi) di mana anak gizi buruk (timbangannya kurang) diajak makan MTG, makanan baru tapi mesti jadi makanan utama dengan dosis tertentu. Teorinya bertumpu pada pembentukan kebiasaan akibat rasa senang/ puas yang terfokus.

1. MTG atau makanan sehat mesti jadi makanan pertamax. Sejak bangun, makanan yang hendak dibiasakan mesti jadi makanan pertama yang dirasakan anak. Jangan kasih makanan sampah (junk food) sebagai makanan pertama. Makanan pertama membuka peluang pengalaman yang terekam kuat. Makanya, pengalamannya pun mesti menyenangkan. Caranya, sbb.

2. Berikan saat anak mau makan. Kan, terlihat tanda-tandanya. Saat itu, suapi atau berikan makanan. Jangan ujug-ujug atau tiba-tiba memberikan makanan. Apalagi saat anak tidak mau. Jangan pernah memaksakan. Ini salah satu poin penting teknik responsive feeding.

Kalau memaksakan, anak stres dan yang rilis hormon kortisol, yang mencegah perilaku berulang. Bisa saja anak makan sampai habis tapi karena tekanan, besok-besok dia berontak dan semakin menolak.

Sebaliknya, yang mesti dirilis dopamine yang menimbulkan kepuasan. Hormon itu yang memfasilitasi perilaku berulang. Makanya, kondisinya mesti sbb.

3. Sebelum, selama, sesudah makan mesti dalam keadaan senang. Anak dibuat senang, jangan dibuat stres. Meski makannya hanya sedikit, tidak apa-apa. Karena targetnya adalah perilaku berulang (kebiasaan), jangan paksa atau cemberuti tapi berikan senyuman, muka cerah, senang, atau pujian. Selain itu, perilaku anak pun mesti fokus.

4. Makan terfokus. Maksudnya, saat makan, usahakan anak tak melakukan hal lain, kecuali makan. Apalagi melakukan hal yang disenangi (main hp, tab, mainan, nonton tv, dll.). Kalau sambil melakukan hal lain (yang menyenangkan), dikhawatirkan rilisan dopamin itu tidak dibaca dari perilaku makan. Bisa jadi yang diulangi justru main hp atau lainnya.

5. Hindari makanan yang rasanya kuat. Sebetulnya, yang ingin disampaikan adalah hindari makanan tidak sehat atau junk food, yang mudah menang gara-gara rasanya yang kuat (manis, asin, gurih). Rasa kuat itu nagih karena menghasilkan lonjakan dopamin.

Tak mudah kalau sudah nagih (cek apakah anak kesal/ marah/ nangis kalau tidak diberi?) Ibu/ pengasuh mesti menerapkan teknik mengurangi adiksi. Misalnya dengan latihan menunda (tetap diberikan tapi di waktu atau tempat tertentu), memilih, lalu mengurangi sampai ganti dengan yang sehat. Jangan menguatkan, misal dengan menjanjikan permen, kalau sayur dihabiskan.

Kalau dibiarkan bebas memilih, makanan sehat pasti kalah dari makanan sampah, gara-gara lonjakan dopamine tinggi dan instan. Tapi, kalau sabar dengan teknik tepat, makan sehat bisa menang.


Penulis: Risang Rimbatmaja (Forum KAP/Vitamin Angels)

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas