Umpan balik bisa konstruktif alias memotivasi penerimanya memperbaiki diri, namun bisa juga destruktif, termasuk membuat penerima tidak peduli, tidak tertarik, bahkan membenci atau melawan sehingga merusak hubungan baik.
Umpan balik bisa menjadi destruktif bukan selalu karena menyampaikan kekurangan seseorang. Penilaian positif juga berisiko destruktif bila komposisinya kurang pas.
Krogerus & Tschappeler, duo penulis dari Swiss, merangkum bahasan umpan balik, menyederhanakan menjadi 4 kategori sbb.
• Umpan balik negatif yang konstruktif
• Umpan balik negatif yang destruktif
• Umpan balik positif yang destruktif
• Umpan balik positif yang konstruktif
Deskripsinya kurang lebih sebagai berikut.
Umpan balik negatif yang konstruktif. Menyampaikan kekurangan atau kelemahan seseorang berpeluang membuat orang memperbaiki diri bila dilengkapi dengan penjelasan bagaimana versi yang sebaiknya. Jadi, jangan hanya menyampaikan kelemahan atau kekurangan tapi usulkan pula versi sebaiknya atau cara memperbaikinya.
“Ceritanya kurang banyak contoh. Kalau cukup contoh, orang bisa lebih mudah memahami maksud kita. Misalnya, waktu bicara tentang masa inkubasi, sampaikan: ini adalah masa pertempuran antara bibit penyakit yang masuk ke tubuh melawan pendekar kesehatan dalam tubuh. Bibit penyakitnya mengeluarkan jurus tendangan, ciat-ciat, dan para pendekar kesehatan tidak tinggal diam, mereka menghindar cepat, lalu menebas dengan pedang set-set!”
Umpan balik negatif yang destruktif. Bila hanya menyampaikan kelemahan atau kekurangan, hasilnya cenderung destruktif. Apalagi kalau bahasanya judgemental. Orang jadi sedih, kesal atau emosional.
“Tadi ceritamu kurang menarik. Buktinya, ibu-ibu balita tidak ada yang memperhatikan.”
Umpan balik positif yang destruktif. Menyampaikan kelebihan atau kekuatan tidak selalu membuat penerima termotivasi mengubah perilaku. Khususnya, kalau modelnya adalah bagus tapi…
“Suaranya keras, terdengar jelas seisi kelas, tapi isinya saya tidak paham.”
Umpan balik positif yang konstruktif. Menurut teori appreciative inquiry, fokus saja pada hal positif. Hanya dengan menyampaikan kelebihan/ kekuatan, orang termotivasi terus memperbaiki diri. Kalau pun perlu menyampaikan kekurangan/ kelemahan, jangan pakai model bagus tapi... Pakai model ini bagus, ini kurang bagus, dan ini bagus alias setara saja. Jangan di awal diangkat tapi kemudian dibanting.
Penulis: Risang Rimbatmaja (Forum KAP/Vitamin Angels)