Komunikasi Bukan Pemadam Kebakaran

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Intervensi komunikasi perubahan perilaku itu bukan pemadam kebakaran. Menunggu api berkobar atau asap mengepul, baru dipanggil.

Kata orang Jawa, kasep. Telat.

Telat karena sikap dan perilaku orang juga seperti api. Bisa menjalar ke mana-mana. Awalnya satu orang yang bersikap negatif. Besoknya dia ngomong ke orang-orang lain dan kemudian berantai ke mempengaruhi banyak orang.

Dengan maraknya aplikasi percakapan dan sosial media massa, api mudah dijalarkan kemana-mana.

Memanggil orang komunikasi atau tenaga promkes untuk beraksi setelah layanan mendapat banyak penolakan warga adalah seperti kerja pemadam kebakaran. Komunikator mesti menghadapi api. Sebagian masih dalam bentuk korek yang menyala kalau disenggol. Ada yang di dalam sekam. Ada juga yang berkobar-kobar.

Bukannya komunikasi tidak bisa berkontribusi lagi tapi enerjinya pasti jauh lebih berat. Panas. Dan yang dikhawatirkan, sudah ada bagian-bagian yang keburu gosong alias susah diubah.

Dalam matriks pemograman, untuk menilai intervensi, dikenal matriks yang dimenasinya seberapa penting dan seberapa mendesak. Mana yang important dan less important dan di sisi lain, urgent dan less urgent. Intervensi komunikasi itu masuk sel important dan less urgent.

Penting karena keberhasilan tidak hanya bisa mengandalkan sisi layanan atau suplai saja dan melupakan demand creation, yang disasar komunikasi.

Sebagai contoh, layanan imunisasinya keren. Vaksinator siap 24/7. Vaksinnya juga manjur. Tempat tunggu full AC. Tapi kalau warga tidak dipersuasi atau diedukasi, apa mereka akan datang?

Ini pelajaran dasar tentang bagaimana inovasi diadopsi warga. Barang yang paling bagus belum tentu yang paling banyak dipilih. Keyboard QWERTY yang digunakan saat ini sebetulnya bukan yang paling efisien tapi dia memenangkan battle for dominance. Kalau mau efisien-efisienan, ada yang lain seperti Dvorak. Singkatnya, yang menentukkan adalah upaya mengubah perilaku orang.

Komunikasi juga less urgent. Maksudnya, ojo kesusu. Ngomong sama orang itu perlu waktu. Santai. Rileks. Supaya enak.

Makanya, intervensi komunikasi lebih pas diposisikan sebagai tim advance. Kalau layanannya belum siap, ya boten nopo-nopo. Terjunkan saja.

Biarkan tim komunikasi berdialog dengan warga. Mencoba membangun hubungan baik, memahami sikap dan nilai lalu menawarkan layanan dengan kerangka berpikir warga. Kalau warga punya aspirasi, bila dimungkinkan, layanan bisa menyesuaikan.

“Bagaimana kalau layanan imunisasinya habis maghrib saja, di tempat pengajian anak-anak?”

Kalau sanggup, kenapa tidak?


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas