Mana yang datang duluan, pesan nonverbal atau verbal?
Coba bayangkan, Anda sebagai bidan duduk di meja. Sibuk nulis-nulis. Muka rada kesal karena banyak kerjaan mengisi tumpukan borang (formulir isian).
Sementara, di depan pintu, seorang ibu hamil menunggu. Mungkin karena kelamaan, dia bertanya,
“Bu Bidan, sudah bisa masuk saya?”
Anda tersentak. Belum sempat ngomong apa-apa. Belum ada pesan verbal (kata-kata) keluar dari mulut Anda. Namun, betulkah tidak ada pesan yang Anda sampaikan?
Ada dong, yaitu pesan nonverbal atau tanpa kata-kata.
Si Ibu Hamil kemungkinan besar sudah menerima pesan Anda. Bahwa Anda sedang sibuk. Tidak sedang ingin menerima tamu dan lain-lain.
Pesan nonverbal datang duluan ketimbang pesan verbal.
Yang menjadi masalah adalah pesan nonverbal itu masuk ke area emosi ketimbang ke area kognisi. Pesannya lebih banyak dirasakan ketimbang dipikirkan.
Kalau yang dirangsang perasaan negatif, dampaknya tentu buruk. Ibu Hamil jadi sedih, minder, merasa tidak diinginkan, dll. Kalau nanti bu bidan ingin mempersuasi, butuh usaha ekstra karena titik mulai (motivasinya si ibu) berada di posisi lebih rendah.
Pesan nonverbal mudah mengotak-atik motivasi orang. Kalau Bu Bidan menasehati dengan suara monoton, satu pola berulang-ulang (mau tinggi, cepat, rendah, keras atau apapun, yang penting monoton) lama-lama orang akan bosan karena otak tidak tertantang mengantisipasi apa yang akan datang berikutnya. Kemudian, perhatian teralihkan lalu mengantuk dan mungkin bisa tertidur.
Pesan nonverbal juga lebih terpercaya bila dibandingkan pesan verbal. Jadi, kalau Bu Bidan mengatakan dia sangat memperhatikan si ibu hamil tapi bilangnya sambil melihat borang dan hp, pasti terbetik dalam hati si ibu, “Ah, bu bidan mah tidak serius memperhatikan saya”.
Karena penting demi persuasi, dalam pelatihan komunikasi, pesan nonverbal perlu dipelajari lebih dulu, dengan penuh perasaan dan motivasi tinggi, dan rasa saling percaya antara para pembelajar, termasuk fasilitatornya.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia