Dalam sebuah pertemuan daring seorang rekan dosen bercerita pengalamannya membekali keterampilan komunikasi pada mahasiswa-mahasiswinya, para calon bidan.
“Ternyata sebagian anak memang berbakat sehingga diajari sedikit saja langsung terampil berkomunikasi. Bicaranya lancar di depan ibu-ibu hamil. Sebagian lain mungkin kesulitan. Kelihatannya tidak semua orang berbakat, ya?”
Bakat memang mempengaruhi kecepatan menguasai keterampilan komunikasi tertentu. Misalnya, kalau orangnya memang ekstrovert, riang bergembira suka bercerita, maka dia lebih mudah menyerap teknik-teknik komunikasi yang gaya ber-ekstrovert dan heboh begitu. Sebaliknya, orang yang cenderung introvert, pendiam, suka mengamati atau mendengarkan akan menghadapi kesulitan menguasainya.
Intinya, setiap orang bisa belajar atau dilatih menjadi edukator yang handal, dengan catatan gaya komunikasinya disesuaikan dengan bakat yang dimiliki.
Untuk yang berbakat menjadi pusat perhatian, maka cocoknya adalah gaya komunikasi yang atraktif, ekspresif, dominan, dan memimpin. Dia bukan hanya mengorkestrasi sesi edukasi tapi juga sebagai musisi dan vokalisnya. Warga yang hadir asyik menikmati dan tentu, bisa diikutsertakan menyanyi, bergerak, bermain dan berpikir tapi semua dalam kendalinya.
Sebaliknya, bagi yang tidak suka, alias cenderung melipir, menghindari dan malah memberi panggung pada orang lain, maka gaya komunikasi fasilitatif lebih cocok. Dia lebih bertindak sebagai pemandu proses edukasi. Dia banyak bertanya, mendengarkan, dan malah mencari serta mengangkat narasumber dari peserta pertemuan sendiri. Walau dia menguasai tapi dia lebih memberi ruang pada warga, kader, atau tenaga kesehatan lain yang hadir.
Masing-masing gaya memiliki indikator penilaian sendiri. Kita tidak bisa menilai gaya fasilitatif dengan indikator gaya atraktif. Untuk gaya fasilitatif, yang perlu dilihat adalah keaktifan peserta. Proses yang bagus ditunjukkan dari wajah-wajah peserta yang bergembira sambil banyak berbagi cerita, pengalaman, dan pertanyaan. Sementara, edukator bisa saja tidak terlihat alias tertutupi oleh semangat peserta.
Untuk gaya atraktif, bagaimana penampilan edukator menjadi penting. Bagaimana dia bercerita? Apakah pesan-pesan edukator jelas dan mudah dicerna? Apakah peserta menyimak dengan penuh perhatian saat dia bicara? Apakah peserta bergembira saat edukator mengajak mereka bergembira?
Ringkasnya, artikel ini ingin berpesan jadilah edukator kesehatan dengan gayanya masing-masing. Asalkan kita dapat menikmati prosesnya, sehingga energi bertambah dan di lain pihak, peserta juga menikmati dan bahkan berharap bertemu kembali, maka kurang lebih kita sudah menemukan gaya yang pas. Tinggal diasah terus saja sehingga semakin tajam.
Penulis: Risang Rimbatmaja (Forum KAP/Vitamin Angels)