Cara Membentuk Kebiasaan

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Kebetulan saja, dua pekerjaan dalam 2 tahun terakhir berurusan dengan kebiasaan. Bumil minum MMS atau anak makan MTG diarahkan sebagai kebiasaan, bukan melakukan hanya karena motivasi.

Motivasi itu dorongan untuk berperilaku. Asalnya bisa dari dalam atau luar. Sumbernya bisa berupa kondisi yang ingin dicapai, misal bumil minum MMS agar persalinan lancar dan anak jadi pintar, atau tujuan jangka pendek, seperti 3E (Enak makan, Enak badan, Enak tidur).

Motivasi bisa juga berupa kondisi yang ingin dihindari, misal, ibu memberi MTG pada anaknya (yang timbangannya mesti cepat bertambah) karena tidak mau anaknya meninggal kalau kena penyakit.

Teori sederhananya, kalau seseorang bermotivasi tinggi, maka dia akan melakukan perilaku itu.

Motivasi cocok buat perilaku-perilaku yang sekali atau sesekali. Untuk imunisasi, orang tua butuh motivasi. Untuk CKG juga demikian.

Tapi sulit mengandalkan motivasi untuk perilaku jangka panjang terus menerus. Alasannya karena motivasi itu rentan dipengaruhi suasana hati, emosi, atau pikiran. Pas lagi semangat, olahraganya rajin. Pas sedih, olahraga terlupakan. Pas lagi longgar, olah raga. Pas banyak kerjaan, dilupakan.

Kalau mengandalkan motivasi semata, bumil semangat minum MMS di seminggu pertama. Setelah itu, kadang-kadang minum, kalau ingat.

Motivasi penting untuk memulai perilaku tapi agar perilaku berlangsung jangka panjang terus menerus, maka intervensi perubahan perilaku mesti diarahkan ke kebiasaan.

Kalau sudah kebiasaan, motivasi bisa ditanggalkan. Ibu hamil tidak lagi memikirkan untuk apa dia minum MMS. Mau senang atau sedih, santai atau sibuk, minum ya minum aja.

Ibu hamil minum MMS, anak dengan masalah gizi makan MTG, cuci tangan pakai sabun di waktu-waktu penting, makan sayur, olah raga, tidur cukup adalah contoh-contoh perilaku kebiasaan.

Agar menjadi kebiasaan caranya beragam dan sangat tergantung dengan perilaku target.

Untuk MMS, metode KAP memanfaatkan FBM (Fog Behaviour Model), karena perilakunya kan sederhana (hanya minum 1 tablet sehari). Yang penting ada penanda/ pemicu/ trigger dan selebrasi untuk rilis dopamine, hormon yang memungkinkan perilaku berulang.

Sementara, MTG agak kompleks karena orang tua mesti mencegah jangan sampai anak stress (rilis kortisol, yang menghambat perilaku berulang), fokus (jangan bercampur dengan perilaku lain seperti main HP), dan terbatasi (MTG sebagai makanan pertama dan jangan sampai MTG menjadi batu loncatan mendapat kepuasan akhir, seperti menjanjikan ciki-ciki kalau MTG dihabiskan).

Meski sederhana, upaya membentuk MMS sebagai kebiasaan suka dilupakan edukator. Mungkin karena melihat si bumil semangat menerima MMS, jadi percaya dia akan minum secara teratur.

Jadi, motivasi itu penting untuk mengawali suatu perilaku. Untuk perilaku jangka panjang terus menerus, perlu kebiasaan. Siang ini kita bahas cara membentuk kebiasaan bumil minum MMS, ya.


Penulis: Risang Rimbatmaja (Forum KAP/Vitamin Angels)

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas