Virus Hanta: Bukan Hanya Virusnya yang Menular!

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

oleh: Donny Utoyo*

Sekitar awal Mei 2026, sebuah kata yang terdengar asing, setidaknya bagi saya, tiba-tiba membanjiri mesin pencari Indonesia: hanta. Bukan nama artis, bukan judul dracin. Google Trends mencatat lonjakan pencarian kata tersebut dari angka nol, datar sepanjang April, hingga menyentuh indeks 100 dalam hitungan hari. Untuk sesaat, “hantavirus” mengalahkan “COVID-19” sebagai topik paling banyak dicari warga Indonesia.

Ini bukan sekadar rasa ingin tahu yang wajar. Ini adalah tanda bahwa sebuah infodemik sedang bergerak, jauh lebih cepat dari virusnya sendiri. Infodemik adalah banjir informasi, baik benar maupun keliru, yang menyebar begitu cepat sehingga mengaburkan fakta dan mempersulit masyarakat untuk mengambil keputusan yang tepat.

Kapal Pesiar ke Ponsel

Kisahnya bermula dari MV Hondius, kapal pesiar asal Belanda yang berlayar dari Argentina pada April 2026. Di atas kapal itu, Andes virus, satu-satunya varian hantavirus yang diketahui bisa menular antar manusia, menginfeksi setidaknya delapan penumpang. Tiga orang meninggal. WHO mulai menerima laporan resmi pada 2 Mei.

Dalam hitungan hari, berita itu sampai ke Indonesia. Kemenkes mencatat sepanjang 2024 hingga Mei 2026 terdapat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi di berbagai wilayah, mulai dari DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Satu kontak erat kasus MV Hondius yang berada di Indonesia sudah diperiksa di RSPI Sulianti Saroso dan hasilnya negatif. Namun kepanikan tidak menunggu hasil laboratorium. Di media sosial, narasi sudah bergerak lebih cepat dari fakta medis.

Google Trends merekam ini dengan jelas. Kueri (kata kunci pencarian yang digunakan) yang muncul bukan “gejala hantavirus” atau “cara pencegahan hantavirus”, melainkan “hanta virus adalah”, “hanta adalah”, “apa itu hanta”. Publik Indonesia sedang mencari pengertian paling dasar. Ketika seseorang mencari jawaban di tengah kepanikan, mereka tidak selalu menemukan sumber tepat.

Anatomi Kepanikan Berulang

Ada satu temuan dari Google Trends yang lebih penting dari sekadar angka lonjakan: orang yang mencari “COVID-19” juga mencari “hantavirus”, “covid hantavirus”, hingga “virus hanta indonesia”, semuanya berstatus BREAKOUT, tumbuh di atas 5.000 persen dari basis yang hampir nol. Ini menunjukkan bahwa dalam benak publik, setiap virus baru otomatis terhubung dengan pengalaman COVID-19. Koneksi itulah yang dimanfaatkan penyebar disinformasi.

Di platform X, narasi lama dihidupkan kembali dengan baju baru. Ada yang menyebut wabah ini rekayasa untuk memengaruhi pemilu. Ada yang mengklaim hantavirus adalah efek samping vaksin COVID. Ada pula yang mempermasalahkan fakta bahwa Moderna sedang mengembangkan vaksin hantavirus, seolah itu bukti bahwa perusahaan farmasi besar “sudah tahu lebih dulu”, padahal pengembangan vaksin untuk patogen lama seperti hantavirus adalah praktik standar industri. Tim Cek Fakta Liputan6.com juga mencatat beredarnya klaim bahwa ivermectin, vitamin D, dan zinc bisa menyembuhkan hantavirus di media sosial Indonesia, meski European Medicines Agency menegaskan tidak ada bukti ilmiah yang mendukungnya. Polanya persis sama dengan 2020 saat pandemi dan infodemik COVID-19 merajalela, hanya virusnya yang berganti.

Mengikis Kepercayaan Publik

Infodemik kali ini bisa saja menjadi lebih kompleks karena kehadiran figur dengan latar belakang institusional yang ikut memproduksi narasi tersebut. Seorang mantan pejabat tinggi kepolisian, aktif belakangan di panggung politik, muncul menanggapi isu hantavirus dengan menyebutnya sebagai fearmongering, bentuk kontrol global, bahkan mengaitkannya dengan Mark of the Beast, sebuah konsep teologis dalam tradisi Kristen yang dalam narasi konspirasi modern sering digunakan untuk menyebut sistem kendali global atas identitas manusia.

Ia juga mempertanyakan mengapa tikus “dijadikan kambing hitam” dalam narasi penyebaran virus ini. Pertanyaan itu terdengar kritis, tapi mengabaikan fakta dasar virologi: hantavirus memang ditularkan melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes bahkan mencatat bahwa virus ini menyebar melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus, sesuatu yang sering dianggap sepele. Ini bukan konstruksi narasi, melainkan mekanisme biologis yang terdokumentasi sejak wabah Korean hemorrhagic fever di era Perang Korea pada 1950-an. Terlepas dari niat di baliknya, narasi semacam ini bekerja sebagai misinformasi: ia membingkai fakta ilmiah sebagai konstruksi kekuasaan, dan dalam prosesnya, rentan mengikis kepercayaan publik pada informasi kesehatan yang sahih.

Inilah yang paling perlu kita waspadai: bukan hoaks anonim yang mudah dikenali, melainkan disinformasi yang datang dengan kemasan (seolah) dari otoritas. Ketika seseorang dengan rekam jejak institusional otoritas beken berbicara, pendengar cenderung menurunkan kewaspadaannya.

Imun Literasi Digital

Sering kali literasi digital dipahami sebagai kemampuan mengidentifikasi hoaks, keterampilan “cek fakta” yang baru diaktifkan ketika kita sudah curiga. Pemahaman ini terlalu sempit.

Literasi digital yang sesungguhnya bekerja jauh sebelum hoaks itu datang. Ia bukan soal apa yang kita lakukan setelah terpapar informasi meragukan, melainkan soal kebiasaan berpikir yang sudah dibangun sebelum kepanikan tiba: terbiasa bertanya dari mana informasi ini berasal, siapa yang menyampaikannya, apa kepentingannya, apakah ada sumber lain yang bisa dikonfirmasi.

Data Google Trends menunjukkan publik Indonesia tidak pasif, mereka aktif mencari. “Hanta virus adalah”, pertanyaan itu valid, wajar, bahkan baik. Masalahnya bukan rasa ingin tahunya, melainkan ke mana pertanyaan itu berakhir: di laman resmi Kemenkes dan WHO, atau di video pendek yang mengaitkannya dengan agenda kontrol global?

Kita Bangun Bersama

Infodemik hantavirus memberi kita pelajaran yang sudah terlalu sering diabaikan: krisis informasi tidak datang setelah krisis kesehatan, ia datang bersamaan, bahkan mendahului.

  • Pertama, komunikasi publik dari institusi kesehatan perlu lebih cepat, lebih ringkas, dan lebih sadar platform. Kemenkes dan sejumlah otoritas kesehatan sudah merespons dengan baik dalam kasus ini, tapi distribusi pesannya masih kalah cepat dari satu video pendek yang mengklaim sebaliknya.
  • Kedua, masyarakat perlu dibekali kemampuan mengenali pola infodemik, bukan hanya mengenali konten hoaks tertentu. Ketika narasi “kita ditipu” muncul lebih cepat dari data epidemiologi, itu adalah tanda yang bisa dipelajari untuk dikenali.
  • Ketiga, kita perlu percakapan jujur tentang bagaimana otoritas sosial bisa disalahgunakan untuk menyebarkan ketidakpercayaan pada sains. Membiarkan narasi menyesatkan meluncur atas nama “berpikir kritis” adalah kegagalan kolektif yang kita bayar mahal.

Varian Andes, jenis hantavirus yang mewabah di kapal MV Hondius, tidak ditemukan di Indonesia. Kemenkes mencatat kasus hantavirus yang ada di Tanah Air selama ini didominasi Seoul Virus dengan tingkat fatalitas jauh lebih rendah. Tapi infodemik yang mengiringinya nyata, dan ia meninggalkan bekas lebih lama dari wabahnya sendiri: erosi kepercayaan pada institusi kesehatan, serta publik yang semakin sulit membedakan skeptisisme sehat dari kepanikan yang tidak produktif.

Dua gelombang pencarian di Google Trends, pertama dipicu berita faktual MV Hondius, kedua dipicu narasi reaksioner yang mengikutinya, adalah peta jalan dari bagaimana infodemik bekerja di Indonesia. Kita sudah pernah melewati ini. Kita tahu polanya. Pertanyaannya: apakah kita mau belajar dari pengalaman, atau kita akan terus terkejut setiap kali (nama) virusnya berganti?

*) Penulis adalah Pegiat literasi digital dan pemelajar sosiologi digital. Dapat dihubungi melalui e-mail dbu[at]donnybu.id atau Instagram @donnybu

Daftar Rujukan

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas