Saat mempersuasi warga, sebagian nakes lebih berusaha keras untuk berbicara ketimbang membuat warga bicara. Padahal, membuat warga berbicara terlebih dahulu akan mendatangkan banyak keuntungan. Berikut keuntungan yang dimaksud.
1. Perhatian warga
Tidak mudah menarik perhatian warga agar memperhatikan pesan. Saat nakes memberi wejangan panjang lebar, warga bisa saja memikirkan hal lain. Raga atau fisik di depan nakes tidak menjamin pikirannya ditujukan pada nakes. Meski matanya menatap nakes, bisa saja pikirannya melayang entah kemana. Mungkin memikirkan anak, suami, atau urusan di rumah.
Namun, saat warga berbicara pada nakes, maka otomatis pikirannya tertuju pada nakes. Dengan kata lain, saat di bericara dirinya “hadir” berkomunikasi dengan nakes. Karena itu, tidak perlu susah-susah meminta perhatian warga, cukup bertanya agar warga berbicara.
2. Memahami masalah
Setelah warga berbicara, khususnya masalah-masalah yang membuat mereka enggan melakukan suatu perilaku, maka nakes jadi paham apa yang dihadapi warga sehingga bisa menyampaikan pesan yang pas. Kalau warga enggan divaksinasi gegera takut ketempelan chip (yang dapat memonitor gerak gerik mereka), maka nakes bisa memberikan respon yang lebih spesifik. Jangan sampai jadi Jaka Sembung bawa golok, alias tidak nyambung, mpok. Tidak perlu juga panjang lebar menjelaskan efek-efek samping lain, yang tidak relevan.
3. Hukum timbal balik dalam kebajikan
Jika seseorang menerima kebaikan dari orang lain, maka orang itu akan terpicu untuk membalas kebaikan orang itu. Semisal kita diantar makanan oleh tetangga, maka kita akan terpicu juga untuk membalasnya dengan memberi makanan, entah langsung atau besok-besok. Minimal, kita mengembalikan piringnya dalam keadaan bersih.
Hukum timbal balik dalam kebajikan (reciprocity) berlaku dalam interaksi manusia. Jadi, kalau warga berbicara dan nakes mendengarkan (warga mengamati nakes mendengarkan), maka nanti saat nakes berbicara, warga akan membalasnya dengan mendengarkan. Warga membuka pagarnya, sehingga, minimal, masuklah pesan-pesan nakes ke dalam pikiran warga.
4. Keakaraban
Saat warga berbicara, lalu nakes mendengarkan (meski pendapatnya keliru), maka akan berkembanglah sikap rasa saling menghargai. Ini akan menjadi fondasi hubungan yang akrab.
5. Efisiensi
Kalau berbicara sedikit tapi efektif, nakes kan jadi menghemat banyak energi. Apalagi kalau interaksinya berlangsung seperti ngobrol dengan teman. Bukannya habis energi, yang terjadi justru menambah energi.
Moga-moga bermanfaat.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia