Seorang rekan promkes bertanya, apa bedanya KAP untuk perilaku cegah COVID-19 dengan KAP untuk cegah stunting. Sebetulnya bukan hanya dua itu saja karena KAP juga digunakan untuk edukasi imunisasi, anti-hoaks, TBC, malaria, PTM dan lainnya.
Lantas, apa bedanya?
Untuk komunikator lapangan, Pelatihan KAP dibagi dalam dua bagian. Pertama, keterampilan dasar, khususnya yang terkait dengan teknik-teknik membangun hubungan/ keakraban, saling mendengarkan, dan mengunci komitmen. Kedua, panduan sesi KAP atau semacam skenario komunikasi, baik individual maupun kelompok. Alat-alat bantu, seperti lagu, permainan, gambar atau lainnya dibahas dalam bagian kedua ini.
Bagian pertama atau keterampilan dasar adalah menu wajib semua pelatihan KAP. Jadi dalam pelatihan KAP untuk perilaku cegah stunting, COVID-19, PTM, malaria, TBC atau lainnya, keterampilan dasar diajarkan.
Perbedaannya hanya penekanan sesuai model intervensi komunikasi yang dipilih program. Misal, bila yang dipilih adalah edukasi kelompok (semisal, kegiatan di Posyandu), maka teknik-teknik komunikasi kelompok lebih ditekankan. Bila kegiatan yang dirancang lebih bersifat individual, seperti kunjungan rumah atau konseling, maka teknik-teknik KAP yang individual akan lebih ditekankan.
Yang lebih membedakan antara pelatihan KAP cegah stunting, COVID-19, imunisasi dan yang lainnya adalah bagian kedua atau panduan sesi KAP atau skenario komunikasi.
Partisipan dibekali panduan sesi edukasi atau skenario sesuai dengan kebutuhannya. Untuk mengajak pasien minum obat sampai habis, maka nakes di Pojok Malaria dibekali sejumlah teknik dan skenario dan pesan yang perlu disampaikan.
Untuk kunjungan rumah lansia yang enggan divaksinasi COVID-18 di rumahnya, pelatihan KAP membekali partisipan dengan sejumlah teknik, seperti teknik berargumentasi yang mendukung.
Bila kegiatan yang dirancang adalah komunikasi kelompok yang menumpang kegiatan lain (bukan mengundang dengan konsumsi lengkap), waktunya sekitar 30 menit atau kurang, dan situasinya relatif ramai, maka partisipan dibekali dengan panduan sesi atau skenario yang model low cognition intervention, yang menyasar emosi (buat orang gembira, senang atau sebaliknya) dan disusul segera dengan sesi pembelajaran singkat.
Bila program mampu membiayai sesi khusus di masyarakat (waktu khusus, tempat dan konsumsi ditanggung), maka model high cognition intervention lebih banyak dimainkan. Di sini, komunikator memiliki keleluasaan untuk mengajak warga belajar tapi tetap sambil bermain.
Untuk merangkum, jadi apa yang membedakan Pelatihan KAP untuk cegah stunting, COVID-19, malaria, imunisasi, TBC dll?
Bagian pertama atau keterampilan dasar, sama saja, namun dengan penekanan pada teknik-teknik KAP sesuai kebutuhan. Bagian kedua atau panduan sesi edukasi atau skenario, berbeda. Mengikuti topik dan rancangan intervensi lapangan.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia