Pada umumnya, cara utama seorang edukator mengajak orang hidup sehat adalah dengan berbicara, menyampaikan pesan kesehatan dengan jelas dan memikat.
KAP mengambil jalur alternatif, yaitu membuat orang yang akan diedukasi yang bicara, bahkan bicara lebih banyak.
Tujuannya:
Pertama, agar perhatian orang ditujukan pada edukator. Kalau orang bicara pada edukator, perhatiannya tentu ditujukan pada edukator (selama orang itu tidak mengalami masalah kesehatan mental). Sementara, kalau edukator yang bicara, perhatian orang belum tentu ditujukan pada edukator.
Kedua, agar edukator tahu isi kepala dan hati orang. Kalau orang bicara, edukator jadi tahu apa pikiran dan perasaan orang sehingga nantinya bisa menyampai pesan yang pas. Komunikasi yang gagal biasanya berawal dari Jaka sembung main golok, alias tidak nyambung, mpok!
Ketiga, agar hukum timbal balik dalam kebaikan (reciprocity) berlaku. Kalau orang bicara didengarkan, maka orang itu akan senang karena merasa dihargai. Nanti saat giliran edukator yang bicara, dia akan membalas dengan cara mendengarkannya.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara edukator membuat orang bicara?
Jawaban sederhananya adalah dengan cara bertanya.
Jawaban rumit sedikit: lempar pertanyaan dengan pilihan dan rute yang sesuai. Lalu, pada setiap tanggapan orang, edukator nyambung alias membuatnya berbicara lebih banyak dengan jalan bertanya-tanya singkat dan hindari 3 hal (ganti topik, menilai/ mematahkan, dan mendiamkan).
Kadang ada pertanyaan lanjutan: lantas bagaimana dengan pesan kesehatan kita? Kapan menyampaikannya?
Ideal: pertanyaan-pertanyaan edukator menghasilkan kesadaran sendiri pada diri orang. Dengan kata lain, orang menemukan sendiri solusi (perilaku sehat) dan termotivasi melakukannya. Di sini, edukator tidak perlu menyampaikannya sama sekali.
Tidak kalah ideal: pertanyaan-pertanyaan edukator menghasilkan minat kuat pada orang untuk mengetahui solusi (perilaku sehat). Di sini, edukator menyampaikan pesan setelah diminta orang.
Lumayan: pertanyaan-pertanyaan edukator menghasilkan sikap terbuka, kesediaan mendengarkan. Di sini, edukator sampaikan pesan setelah orang menjawab mau mendengarkan.
Di dunia nyata, teori-teori di atas perlu diterjemahkan menjadi taktik-taktik dan teknik-teknik mengedukasi dan mengajak orang berperilaku sehat. Nah, untuk itu kita bahas dalam Forum Kemisan siang ini, ya.
12 Februari 2026 – RR (Forum KAP/ VA)
Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP