Nyambung adalah istilah dalam KAP yang menggantikan mendengarkan. Tujuannya supaya edukator tidak diam/ pasif tapi aktif.
Saat nyambung edukator membantu lawan bicara lebih banyak dengan jalan bertanya-tanya pendek. Edukator menghindari ga tiga, yaitu ga ganti topik, ga mematahkan/ menilai, dan ga mendiamkan.
Tapi apa urusannya nyambung dalam mengedukasi dan mengajak orang?
Begini. Sebagai edukator, kita kan ingin mendapat perhatian warga dan juga didengarkan. Ingat urusan remote control dan pagar dalam komunikasi?
Dengan nyambung, maka warga bicara banyak dan saat berbicara pada edukator, perhatian tentu ditujukan pada edukator. Dengan nyambung, warga merasa senang karena dihargai oleh edukator. Sesuai hukum interaksi sosial bernama timbal balik dalam kebaikan, maka warga akan membalas dengan mendengarkan saat edukator berbicara.
Setelah urusan remote control dan pagar, nyambung berperan dalam mengelola percakapan. Misalnya, kalau kita memandang lawan bicara sebaiknya berbicara lebih cepat, maka mirroring atau pantulkanlah kata-katanya lebih cepat. Kalau kita memandang lawan bicara sudah berbicara terlalu banyak, maka rem-rem ringan dulu dengan mirroring lalu paraphrase dan kemudian ambil kendali percakapan.
Kalau kita ingin lawan bicara menemukan gagasannya sendiri yang dia akan lebih komit, maka nyambung saja. Tanya-tanya singkat, “Caranya bagaimana ya, Bu?”; “Yang paling bagus yang mana, Bu?”; “Yang Ibu bisa lakukan yang mana?”; “Bener bisa lakukan itu?”; “Kapan mau dilakukan?” dst.
Kalau ingin lawan bicara berubah suasana hati dari pesimis ke optimis lalu mencari jalan keluarnya sendiri, maka kita tinggal nyambung juga. “Emang Adi sama sekali tidak
pernah menghabiskan makannya, Bu?”; “Oh, kapan itu?”; “Makan apa?”; “Suasananya seperti apa?” dst.
Intinya memang nyambung. Ke mana? Ya terserah edukator. Yang penting ke arah yang baik-baik, ya.
Pasar Minggu. 18 Desember 2025 – RR (Forum KAP/ VA)
Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP