Peta Masalah (Perilaku) Gizi

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Selain dari kacamata klinis, masalah gizi perlu dipetakan dari sisi perilaku. Nantinya, model-model intervensi perubahan perilaku dapat dikembangkan.

Sekedar memulai, berikut kategorisasi perilaku masalah gizi (yang tidak mutually exclusive):

Kategorisasi pertama terkait sensitivitas. Sensitif maksudnya, bila dibicarakan, orang mudah tersinggung, marah, atau emosi. Contohnya, gizi buruk, kurus, dan stunting. Sementara, pada yang masalah nonsensitif, orang biasa-biasa saja (seperti MPASI, ASI, dll.)

Yang kedua menyangkut frekuensi perilaku. Ada perilaku yang diharapkan terjadi 1) sekali dua kali dalam rentang waktu tertentu, seperti pemberian vitamin A, obat cacingan, dll; 2) sering dan teratur, misal setiap hari selama kehamilan minum MMS (sehingga harus jadi habit, perilaku otomatis alias kebiasaan); atau 3) perilaku pada kondisi khusus, misal, konsumsi suplemen.

Yang ketiga, ketergantungan. Ada perilaku adiktif dan tidak adiktif. Tantangannya pada perilaku adiktif. Misal, anak-anak makan ciki-ciki / ultra-processed food / tinggi gula / karbo sederhana. 

Yang keempat, perilaku yang dipengaruhi norma masyarakat di mana pengetahuan atau sikap perorangan kurang berlaku karena orang cenderung mengikuti aturan (tidak tertulis) yang berlaku demi menghindari tekanan sosial. Mungkin masih ingat kasus warga kena antraks gara-gara makan sapi mati (karena antraks)? Gara-garanya kan ada tradisi brandu di mana warga lazim mengumpulkan uang untuk pemilik sapi sakit atau mati dengan niat meringankan beban dan mereka pun mendapat daging sapinya.

Lawannya adalah perilaku perorangan. Sebetulnya, sulit mengatakan suatu perilaku gizi murni perorangan karena kita masih agak komunal atau paling tidak. dipengaruhi keluarga besar. Contohnya, ibu tidak memberi ASI Eksklusif bukan karena tidak mau tapi gara-gara diminta suami memberi pisang ke adik bayi.  Sementara, suami diarahkan ibunya (nenek si bayi).

Karena perilaku gizi banyak dikangkangi dunia korporasi, kurang elok rasanya kalau tidak memperhitungkan power dynamic. Perilaku gizi banyak yang ditegakkan oleh korporasi dengan kekuatan ekopolnya, seperti pemberian SF, makanan tinggi gula/ ultra-processed food.

Perilaku juga bisa dipetakan berdasarkan tingkat kesadaran, pengetahuan, sikap, dan persepsi. Misal, sebuah survei di 6 kota besar menemukan tak ada yang bisa menyebut lengkap pilar utama gizi seimbang (keragaman dan porsi sesuai kebutuhan). Atau, bisa juga dibuatkan tingkatan seperti pre kontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi, dll. Orang dewasa yang hobi makan makanan tinggi GGL mungkin tidak peduli untuk mengubah perilaku (pre-kontemplasi).

Silahkan dilanjutkan peta perilakunya. Silahkan dikritisi, ditambahkan, atau dikurangi.

Pasar Minggu, 16 Desember 2025 – RR (Forum KAP/ VA)


Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas