KAP 3.0 menekankan kecakapan ngobrol. Bukan ngomong tapi ngobrol. Bukan sekedar komunikasi dua arah dengan pihak bertanya dan pihak menjawab tapi ngobrol tektokan.
Gentenan. Kita bertanya hobi warga, maka setelah cerita, warga tanya hobi kita.
Ada 3 tahap. Pertama, ngobrol akrab. Orang kita kan lebih mudah diajak kalau sudah akrab, maka mulailah dengan ngobrol akrab, khususnya dengan topik yang disukai warga.
Perlu diperhatikan, semakin sensitif topik edukasinya, semakin lama ngobrol akrabnya. Maksudnya agar efektif. Tapi kalau sebentar saja sudah akrab, tentu tak perlu lama.
Jadi, jangan datang ke warga lalu ujug-ujug mengajak tes IVA atau HPV DNA. Ngobrol akrab dululah. Bangun rasa saling percaya dengan saling cerita, nyambung, terbuka, perhatian, dan lain-lain.
Kalau bukan topik sensitif atau warga sendiri minta dijelaskan, ya skip ngobrol akrabnya (tapi jangan ditinggalkan). Semisal ditanya, “Bu Bidan, katanya ada imunisasi baru, buat DBD?”, maka jangan muter-muter tanya hobi. Langsung saja respon dan ngobrol akrab bisa dilakukan belakangan.
Kedua ngobrol masalah & solusi. Kalau isunya sensitif alias buat malu, marah, atau bentuk emosi lainnya, komunikasikan dengan hati-hati. Jangan mengatakan apa adanya sesuai buku/ juknis. Dari lapangan kita belajar, TBC disebut flek atau paru anak gizi buruk dibilang timbangannya kurang.
Jangan menyalahkan karena akan membuat orang tertekan. Makanya, bu bidan tidak bilang anak diare gara-gara ibu tidak cuci tangan pakai sabun tapi bilangnya emang lagi musimnya ini.
Jadi ingat cerita dok Tofan. Suami istri berantem gara-gara seorang dokter ditanya penyebab kanker serviks yang diderita sang istri lalu dijawab karena virus yang menular lewat hubungan seksual.
Di sini pula disampaikan cerita yang mengandung pesan kunci (masalah) yang mesti dipahami dan diingat warga. DBD itu demamnya menipu, Lewat karena telat (tes IVA), dan lain-lain.
Kalau berhasil, warga dengan sendirinya bertanya, “Bagaimana cara mencegahnya?”; “Supaya anak pintar, bagaimana caranya?” Nah, di sinilah masuk solusi (imunisasi, test IVA / HPV DNA, 3M, dan lain-lain).
Terakhir, ngobrol sepakat, khususnya kalau warga berminat menerapkan saran kita. Kuatkan minatnya, misal dengan 3 Cek. Bukan apa-apa, orang kita suka bilang iya hanya karena tak enakan, sopan santun, atau supaya cepat. Belum lagi, ada hoaks atau bisikan tetangga yang menggoyahkan.
Kalau ingin lebih detail, gabung saja di Forum Kemisan besok. Kita bahas lebih lanjut, ya.
Pasar Minggu, 3 Desember 2025 – RR (Forum KAP/ VA)
Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP