Sistem (Komunikasi) Penangkal Hoaks

Sistem (Komunikasi) Penangkal Hoaks

Menurut laporan sejumlah tenaga kesehatan, hoaks banyak mempengaruhi keputusan orang tua mengimunisasi anaknya. Seperti, imunisasi menyebabkan anak sakit (jangka pendek atau panjang), ada agenda terselubung, masih mengandung bahan haram, dan lain-lain.

Karena ada di mana-mana (ubiquitous) sehingga orang tak bisa menghindari (inevitable), maka pendekatan reaktif (pemadam kebakaran) akan banyak menguras tenaga dan tidak efektif. Repot-repot membantah-bantah hoaks setelah beredar di masyarakat. Sampai kapan?

Idealnya, ada sistem (komunikasi) penangkal hoaks yang sifatnya lebih organik. Yang bisa bekerja tanpa mobilisasi sumber daya yang besar (misal, melakukan counter-campaign).

Berimajinasi seperti permainan sepak bola, ada empat kelompok pemain yang perlu dibangun.

Pertama, kiper. Warga yang tidak terpengaruh serangan hoaks. Kebal, meski yang minimal. Maksudnya, ketika mendapati hoaks, baik dari media sosial atapun orang dekat, mereka tidak mudah terpengaruh. Curiga dan tidak percaya tapi yang paling penting tinggalkan dan lupakan. Dengan demikian rantai penularan terhenti.

Untuk membangun barisan kiper, warga perlu dikenalkan ciri-ciri umum hoaks yang mudah diikuti. Setiap warga mesti bisa jadi kiper.

Yang kedua, bek. Nah mereka adalah orang-orang yang bisa berhadapan atau berdialog dengan penyerang (pembawa hoaks), baik via media sosial maupun orang perorangan. Jadi, selain paham ciri-ciri hoaks, mereka juga mampu berdialog dan menerapkan sejumlah metode komunikasi, seperti mendengarkan secara kritis, beragumen harmonis, dll. Syukur-syukur bisa menekel jatuh pembawa hoaks sehingga tidak lagi menyebarluaskan lebih lanjut.

Idealnya di setiap keluarga ada bek. Atau minimal, di komunitas ada barisan bek, entah dari kelompok kader, penggiat, atau tokoh masyarakat.

Lalu playmaker atau pengatur permainan. Dia mesti lihai membaca permainan. Dia mesti tahu serangan hoaks apa yang muncul, siapa penyebarnya di warga, dan bagaimana menetralisirnya.

Dia memberi notifikasi pada bek agar bersiap dan membekali mereka cara-cara menetralisir. Juga menotifikasi barisan penyerang agar bergerak di wilayah hukum atau pembentukan opini.

Mereka adalah pengelola layanan kesehatan (program imunisasi dan tenaga promkes) yang pastinya paham ciri-ciri dan metode komunikasi untuk menetralisir hoaks, serta cara melatih barisan bek.

Yang terakhir adalah barisan penyerang. Mereka adalah yang menyerang para produsen hoaks, yang membuat atau distributor atau penyebar utama hoaks. Mereka adalah orang-orang spesial yang memahami betul dunia per-hoaks-an. Hoaks secara umum. Tidak spesialis di bidang kesehatan. Cocoknya ini posisi para penggiat antihoaks.

Kelihatannya ribet tapi kalau terbangun, mestinya kita seperti sekarang ribet melawan hoaks.

Artikel Terkait