Orang yang “kena” serangan hoaks atau misinformasi biasanya jadi keras, batu, dan sulit “digoyang”. Mereka enggan atau bahkan mudah bereaksi negatif mendengar info berbeda. Hal dikarenakan hoaks utamanya bukan “menyerang” kognitif tapi emosi sehingga muncul rasa sentimen, marah, atau bahkan benci pada sumber informasi berseberangan.
Tantangan besar mempersuasi orang yang “kena” hoaks adalah “merebut” remote control atau menarik perhatian dan membuka pagar atau membuka segel di kuping alias membuat mereka mendengarkan. Terkait itu, KAP menawarkan teknik perparah & candain terhadap orang, yang gara-gara termakan hoaks, menjadi sensitif terhadap info berbeda.
Aplikasinya kurang lebih sebagai berikut:
- Saat orang mengemukakan alasan, yang terdeteksi bermuatan hoaks, jangan mengoreksi atau menyalahkan. Nyambung saja lalu perparah cerita. Kemukakan hal-hal yang lebih parah, berlebihan, atau bombastis di luar akal sehat.
“Yang saya dengar imunisasi HPV bukan hanya buat anak perempuan kita mandul. Nanti malah bisa menular mandulnya ke anak-anak lain. Bahkan ke kita, ibu-ibunya juga bisa tertular. Misal, berdekatan lalu hanya ngobrol, nanti kita jadi mandul.”
- Awalnya orang akan mendengarkan tapi lama-lama heran dan akan bertanya, Sampai sebegitunya? “Kok, bisa begitu, ya?” Orang melontarkan pertanyaan seperti itu tandanya dia mendengarkan cerita kita (yang ngaco). Saat itulah, kita segera bungkus sebagai candaan.
“Cuma bercanda, Bu Ida, bercanda. Bu Ida langsung tahu kan kalau saya bercanda.”
Bagi sesama jenis, kalau perlu, sampaikan sambil memberikan sentuhan ke area aman.
- Orang merasa kecele tapi “segelnya” terlanjur terbuka dan karena dibungkus sebagai candaan, moga-moga tidak emosional. Saat “segelnya” terbuka, manfaatkan segera untuk menyampaikan cerita yang benar. Mulai dengan masalah, lalu baru solusi (dalam kasus ini: imunisasi HPV).
“Bercanda itu, Bu Ida. Yang benar begini. Kalau perempuan kena kanker serviks, sampai diangkat rahimnya, ya sudah, pasti tidak bisa punya anak lagi. Nah, supaya terlindungi dari serangan kanker serviks, anak-anak perempuan kita justru perlu imunisasi HPV. Sekali suntik, insyaAllah aman seumur hidup dari kanker serviks.”
- Sebagai tambahan, kita bisa membalas serangan emosional hoaks.
“Orang yang bilang imunisasi HPV membuat mandul justru perlu dicurigai. Jangan-jangan mereka mau agar anak-anak perempuan kita nantinya mandul. Bukan apa-apa, _man_ memang ada kelompok manusia yang tidak suka kalau kita jadi banyak dan besar. Takut mereka itu.”
Silahkan dicoba-coba. Apapun hasilnya, yang penting tetap akrab dan ceritakan hasilnya, ya.
Taybah, 16 Maret 2026 – RR (Forum KAP/ VA)
Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP