Apakah motivasi dan kemampuan saja cukup untuk mengubah perilaku? Dalam jangka pendek, mungkin ya. Namun, dalam jangka panjang, masih kurang.
Agar dapat berlangsung dalam jangka pandang, perilaku perlu menjadi kebiasaan. Perilaku muncul secara otomatis, semacam insting, tanpa tergantung motivasi saat itu.
Bila bergantung tinggi rendah motivasi, perilaku menjadi rawan drop out. Termasuk perilaku rawan drop out adalah minum obat TB, vitamin ibu hamil seperti MMS, olah raga, dan lain-lain.
Salah satu model intervensi perubahan perilaku yang menyasar kebiasaan adalah Fogg Behaviour Model (2011), yang memanfaatkan motivasi, kemampuan, dan satu aspek lagi, yaitu trigger atau sinyal (tanda untuk memulai perilaku). Agar menjadi perilaku jangka panjang, motivasi, dan kemampuan yang memadai mesti memiliki trigger agar menjadi kebiasaan. Secara lengkap, proses membentuk kebiasaan adalah dengan siklus berulang sebagai berikut:
1) mendapat sinyal atau tanda
2) langsung merespon dengan melakukan perilaku
3) langsung merayakan atas terselenggaranya perilaku.
Setelah itu, siklus kembali ke memperhatikan sinyal/ tanda.
Agar menjadi kebiasaan, perilaku dilakukan setelah menangkap sinyal atau tanda (yang ditetapkan sendiri). Sinyal atau tanda mesti yang mudah dikenali dan muncul cukup konsisten, seperti adzan subuh, weker berdering, menyalakan lampu kamar, selesai makan, dll.
Setelah memperoleh sinyal, langsung lakukanlah perilaku itu. Setelah selesai, langsung rayakanlah. Cara merayakan juga ditentukan sendiri. Yang penting, rayakanlah dengan cara yang membuat senang atau puas. Bisa dengan menikmati suatu makanan atau sekedar bertepuk tangan.
Untuk MMS (Vitamin Ibu Hamil), yang diminum ibu hamil satu tablet setiap hari sepanjang kehamilan, siklusnya dapat mengambil bentuk-bentuk sebagai berikut.
1) Sinyal/ tanda – Suami pulang kerja (bila pulang selalu jam tertentu. Alternatif: habis makan siang)
2) Perilaku – Minum MMS
3) Rayakan – Mengusap-usap perut sambil berbicara dengan adik janin dan berdoa agar persalinan
lancar dan anak pintar
Awalnya, ibu hamil harus memaksakan diri melakukkannya berulang-ulang secara langsung dari satu langkah ke langkah berikutnya. Lambat laun, begitu mendapat sinyal, muncul dorongan kuat minum MMS. Perasaan senang dari mengusap-usap perut, dan berdoa, kemudian akan semakin menguatkan dorongan itu.
Setelah menjadi kebiasaan, bila tidak atau belum minum MMS, bumil akan merasa ada yang hilang. Dia juga sulit lupa karena ada sinyal yang secara konsisten muncul berkala.
Masih hipotesis tapi tidak ada salahnya dicoba.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia