Kalau orang tua mendukung vaksinasi COVID-19, semestinya dia pun menginginkan anaknya divaksinasi. Namun, Survei UNICEF Nielsen di 6 kota besar pada Desember 2021 mendapati gambaran yang agak melenceng.
Di antara 2000 responden yang ditarik random, survei menjaring 880 responden yang memiliki atau mengasuh anak usia 6-11 tahun. Di antara mereka, sekitar 67% menunjukkan sikap konsisten.
Termasuk yang bersikap konsisten di sini adalah 1) mereka yang sudah atau bersedia divaksinasi COVID- 19 dan membolehkan anaknya divaksinasi (61%) dan 2) mereka yang menolak vaksin COVID-19 atau sudah divaksinasi dosis pertama tapi menolak dosis kedua dan mereka pun tidak membolehkan anaknya divaksinasi (6%).
Ada dua kelompok yang melenceng atau tidak konsisten. Yang terbesar adalah mereka yang sudah atau mau divaksinasi tapi ragu atau tidak mau anaknya divaksinasi (31%). Berikutnya, kelompok kecil yang kurang siginifikan, yaitu yang menolak sama sekali atau tidak mau melanjutkan dosis kedua tapi membolehkan anaknya divaksinasi (2%).
Jadi sepertiga orang tua atau pengasuh bersikap tidak konsisten. Mereka sudah atau mau divaksinasi tapi tidak membolehkan anaknya divaksinasi.
Apa alasan mereka?
78% khawatir akan efek samping pada anak
34% memandang vaksin COVID-19 tak efektif melindungi anak mereka
19% melihat orang tua lain pun tidak memperbolehkan
Di luar itu, mungkin ada alasan lain yang tak terungkap survei. Misalnya, divaksinasi karena tuntutan pekerjaan, bantuan sosial atau administrasi layanan publik sehingga sikap dasarnya tetap negatif.
Namun, bagaimanapun sikap dan perilakunya, ternyata kita tak boleh taken for granted. Pekerjaan belum usai. Upaya untuk memotivasi orang tua mem-vaksinasi anaknya tetap diperlukan.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia