Memanfaatkan Counter-Argument dalam Persuasi

Sumber Foto: Dokumentasi Portkesmas dalam kegiatan pelatihan Komunikasi AntarPribadi (KAP) untuk stunting  Kader Kelurahan Pasirluyu, Kota Bandung
Sumber Foto: Dokumentasi Portkesmas dalam kegiatan pelatihan Komunikasi AntarPribadi (KAP) untuk stunting Kader Kelurahan Pasirluyu, Kota Bandung

Setelah interaksi dengan banyak warga, komunikator biasanya mulai paham apa yang membuat warga enggan mengikuti perilaku yang dianjurkan. Adakalanya, penyebabnya tidak mudah diungkapkan. Entah karena malu atau dipandang sensitif. Misalnya, dalam imunisasi, masalah halal haram atau larangan suami kerap kali mengganjal tapi suka dipendam. Dalam situasi ini, komunikator dapat mencoba teknik counter-argument dalam percakapan. Di sini, justru komunikator yang mengangkat hambatan yang kemungkinan dialami warga. Menggunakan counter-argument, proses percakapam dapat berlangsung sbb.

1. Ungkapkan hambatan yang mungkin dialami warga (gunakan pihak ketiga bila sensitif)

“Saya paham ibu kepikiran suami melarang anak diimunisasi. Suami mikirnya, nanti anak mengalami apa-apa. Sakitlah. Lumpuhlah. Dan lain sebagainya. Apalagi sekarang Elo kan sehat-sehat saja, ya?”

2. Validasi, apresiasi dan/ atau empati

“Suami tidak salah. Suami memang harus memikirkan kesehatan anak. Beliau mesti menjaga anak agar tidak sakit.”

3. Sampaikan solusi berbalut pesan kunci

“Nah, coba ibu ngobrol sama suami. Sambil santai coba sampaikan imunisasi juga membuat anak kebal dari penyakit-penyakit berbahaya. Memang sih, anak sudah dibekali pendekar-pendekar yang menjaganya dari serangan bibit penyakit. Tuhan tidak meninggalkan anak sendirian. Tapi, yang namanya pendekar, ya harus latihan supaya jago, kan?” 

“Nah, latihannya bisa dengan lawan tanding yang sudah dilemahkan di pabrik. Jadi, musuh atau bibit penyakitnya sudah dilemahkan atau dibuntungi. Ini namanya imunisasi. Dimasukkan ke tubuh anak, lalu berkelahi dan pendekar menang, karena lawan tandingnya sudah dilemahkan. Setelah itu, para pendekar menguasai jurus musuh. Kalau musuh datang lagi, pendekar akan mudah mengalahkan.”

“Atau mau latihannya dengan bibit penyakit liar yang ada di lingkungan? Karena bibit penyakitnya masih kuat, takutnya para pendekar kalah. Kalau kalau, jadi penyakit. Kalau itu virus polio, anak jadi lumpuh seumur hidup. Tidak bisa disembuhkan. Ngeri, kan? Kasihan anak kita.”

“Makanya, mending latihan sama musuh yang sudah dibuntugi saja. Coba ceritakan ini pada suami ya. Kalau, beliau mau info lebih banyak, datang saja ke mari. Kita ngobrol-ngobrol.”

4. Tutup sambil ingatkan solusi dan manfaat perilaku

“Coba ngobrol sama suami ya, bu ya. Imunisasi itu melatih para pendekar anak kok. Supaya anaknya kebal penyakit.”


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas