Lagi, Respon Warga Menghadapi Hoaks

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Pandemi telah berlangsung 2 tahun tapi tak ada tanda-tanda serangan hoaks akan mereda. Yang ada malah semakin gencar dan variatif. Terakhir, misalnya, muncul info sesat VAIDS, vaksin sebabkan AIDS.

Bila warga termakan, hoaks akan mengganggu upaya penanganan pandemi. Tapi hoaks sebetulnya tak akan berarti apa-apa bila warga merespon kritis.

Bagaimana perkembangan terbaru respon warga terhadap hoaks?

Survei Nielsen-UNICEF di kwartal IV 2021 menunjukkan situasi yang agak mengkhawatirkan. Kelompok Rentan atau yang tak bisa membedakan hoaks dari info valid berada di angka 39%. Memang turun sekitar 5% dibandingkan kwartal II 2021 tapi angkanya masih terbilang besar.

Yang mesti dikhawatirkan adalah peningkatan Kelompok Penyebar. Mereka sebetulnya mampu mengidentifikasi hoaks tapi malah ikut menyebarkan. Di kwartal IV prosentasenya sekitar 7%. Padahal, di kwartal II hanya 2%.

Survei kwartal IV, yang melibatkan 2000 responden di 6 kota besar di Indonesia, menemukan peningkatan di Kelompok Cuek/ Tidak peduli dan Kritis pasif. Mereka yang mengenali hoaks tapi tak ambil pusing prosentasenya 12% atau meningkat tipis dari sebelumnya 10%.

Yang kelihatan menggembirakan adalah peningkatan Kelompok Kritis pasif sekitar 10%. Mereka mengenali hoaks dan menunggu klarifikasi pihak lain.

Namun peningkatan Kritis pasif jadi terasa kurang berarti karena Kelompok Kritis aktif justru turun drastis dari 25% ke 12% atau separuhnya. Mereka adalah yang aktif mencari info dari sumber lain untuk verifikasi.

Terakhir adalah Kelompok aktivis atau yang melaporkan hoaks pada saluran yang tersedia. Ada peningkatan tapi tidak signifikan, yaitu dari 1% ke 2%.

Data di atas lagi-lagi menunjukkan edukasi literasi informasi perlu lebih digiatkan.


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas