Dalam sesi belajar komunikasi, seorang rekan nakes berbagi jurus mengatasi kemarahan orang tua yang anaknya diimunisasi (tanpa persetujuan). Jurusnya ternyata sesuai “teori”. Rekan nakes lain kemudian melengkapi dengan jurus komunikasi lain. Maka, jadilah jurus yang lebih lengkap.
Nakes itu bercerita dia mengimunisasi siswa, yang dikira sudah mendapat persetujuan orang tua. Sebetulnya, dalam imunisasi persetujuan tertulis informed consent) tidak diperlukan, namun, karena khawatir ada apa-apa, sekolah memberlakukan.
Setelah diimunisasi, anak menangis dan pulang. Lalu, muncul ibunya penuh kemarahan.
“Kenapa anak saya diimunisasi. Tidak rido saya!! Dunia akhirat, tidak ridho saya!!!”
Nakes tidak defensif atau membela diri,. Dia mengajaknya duduk. “Mari kita bicarakan di sana, yuk.”
Di sini, rekan nakes membuat jeda hening. Mengajak Si Ibu ke suatu tempat. Berdua melangkah ke kursi dalam diam. Harapannya, akal sehat melintas atau cengkraman nafsu mengendor sejenak.
Lalu, rekan nakes bertanya dan mendengarkan komplain Si Ibu. Kentara sekali nada marah dalam suaranya. Tapi nakes tak membantah atau meluruskan. Dia dengarkan dengan bertanya-tanya.
Ini yang disebut venting. Seperti ventilasi, fungsinya mengeluarkan amarah. Dengan mem-venting, biasanya 2-3 menit suara orang berubah. Yang awalnya meledak-ledak lalu mulai melandai.
Kalau kita defensif, sejam dua jam pun nadanya masih meledak-ledak. Kata orang, jangan menyiram api dengan bensin. Di sini, sikap defensif adalah bensin.
Menambah pengalaman rekan nakes, setelah venting, bersikaplah empatik. “Saya paham perasaan Ibu Dita. Kalau anak saya mendapat suntikan tanpa saya ketahui pun saya akan kesal, bu Dita.”
Kemudian, rekan nakes mengklarifikasi. Jadi, dia menyampaikan pengalaman versinya. “Saya pikir Ibu Dita sudah menyetujui karena di catatan sekolah tertulis begitu. Mohon ijin, ini catatannya.”
Rekan nakes itu pun berupaya menetralisir kekhawatiran terhadap KIPI, yang menjadi pangkal masalah. “Bu Dita, insyaAllah tak akan ada apa-apa. Kalau nanti ada, silahkan kontak Puskesmas, ya.”
Dalam kasus di atas, Si Ibu akhirnya bisa menerima. Tentu tidak dengan muka ceria. Tapi, paling tidak, kemarahannya tidak dilanjutkan.
Mendengar cerita itu, rekan nakes lain menambahi upaya (reassurance – mengurangi kekhawatiran) lain yang bisa dilakukan. “Saya biasanya kasih nomor HP saya. Saya bilang: kalau ada apa-apa, ini nomor saya. Kontak saja. Kapan saja,” ujarnya.
“Bertahun-tahun saya memberi no HP ke orang tua, tidak pernah ada orang tua yang menelepon. Ya, karena memang tidak ada KIPI serius, kok,” katanya meyakinkan rekan-rekan nakes lain.
Saling melengkapi jurus, apalagi jurus dari lapangan, moga-moga menambah kepercayaan diri nakes mengomunikasikan imunisasi anak.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia