Kita kadang mudah menyimpulkan masalah komunikasi (halangan berperilaku) adalah pengetahuan. Contoh kasus, orang tua takut efek samping pada anak karena tak tahu imunisasi itu aman.
Semudah itukah?
Dari perspektif komunikasi perubahan perilaku, perlu ekstra hati-hati. Salah-salah menyesatkan.
Saat menyimpulkan pengetahuan, otomatis kita diarahkan menyelesaikan masalah perilaku dengan cukup menyampaikan pesan atau info yang belum diketahuinya.
Ibarat gelas, gelasnya terbuka dan kosong. Yang perlu dilakukan tinggal menuangkan air ke gelas itu.
Gelasnya tidak bertutup. Jadi, tidak perlu ada usaha menggeser atau memindahkan tutup.
Apakah kenyataannya seperti itu?
Melanjutkan kasus di atas. Orangtua tidak mau mengimunisasi anak karena khawatir efek samping. Takut anaknya sakit, lumpuh atau meninggal. Apakah itu masalah pengetahuan? Karena tidak tahu imunisasi aman?
Dari kata-katanya sendiri: khawatir efek samping, jelas sudah bukan masalah pengetahuan. Khawatir atau takut sudah melibatkan emosi. Urusannya afeksi, bukan kekurangan informasi.
Lagi pula, saat telah memilih (menolak imunisasi anak) atau setidaknya memiliki preferensi, orang tua sudah memiliki sikap.
Memang, bisa saja orang tua tidak tahu bahwa imunisasi itu aman. Tidak tahu pembuatannya sudah melalui prosedur ketat. Tidak tahu vaksin sudah disuntikkan ke jutaan anak dan lain-lain. Tapi apakah lantas itu menyimpulkan masalahnya di pengetahuan?
Hati-hati. Mereka bukan lagi gelas kosong tanpa tutup. Gelasnya sudah terisi dengan pengetahuan tertentu. Perkara benar atau salah pengetahuannya, lain soal.
Gelasnya pun bertutup. Jadi, kita tidak bisa begitu saja menuangkan air ke dalamnya. Kita perlu menggeser atau membuka tutup lalu menukar atau mewarnai isi yang sudah ada di gelas.
Kalau bukan karena tidak tahu, bagaimana berkomunikasi dengan yang khawatir efek samping?
Opsinya beragam. Bisa menonjolkan hal-hal menghibur dengan selipan halus tentang manfaat imunisasi. Bisa humor mentertawakan kekhawatiran. Bisa menunjukkan banyak orang tua yang bergembira dan agak terburu, takut kehabisan vaksin. Bisa sampaikan hal yang lebih menakutkan dari pada efek samping. Bisa pesan empatik. Dan beragam lainnya.
Intinya, kalau bukan karena tidak tahu, caranya tidak bisa lugu.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia