Komunikasi risiko acapkali memanfaatkan fear (ketakutan) untuk mengubah perilaku khalayak. Salah satunya dengan memanfaatkan model EPPM (Extended Parallel Process Model), yang mengedepankan 4 (empat) variabel, yaitu perceived severity (persepsi orang tentang seberapa serius atau parah yang diakibatkan penyakit), perceived susceptibility (persepsi orang tentang seberapa besar kemungkinan dia terkena penyakit), response efficacy (persepsi orang tentang seberapa efektif perilaku yang disarankan), dan perceived efficacy (persepsi orang tentang seberapa mampu dia melakukan perilaku yang disarankan).
Menurut model itu, orang akan melakukan perilaku-perilaku yang disarankan bila keempat variabel itu berada dalam tingkat tinggi. Dengan kata lain, orang memandang penyakit bisa menimbulkan kesakitan serius bahkan kematian, bisa mengenai dirinya, dan dia percaya perilaku-perilaku yang disarankan efektif melindungi dirinya dan dia sendiri merasa mudah melakukannya.
Kalau orang memandang penyakit yang dihadapi hanya penyakit yang enteng-enteng saja, sulit berharap orang melakukan tindakan pencegahan. Kalau orang memandang penyakit yang dihadapi mematikan tapi merasa perilaku yang disarankan tidak bisa melindungi dirinya, maka dia akan mencari perilaku lain yang dipandang efektif.
Bagaimana posisi keempat variabel itu dalam konteks pandemi COVID-19?
Khusus populasi 6 kota besar (Medan, Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar), UNICEF & Nielsen melakukan survei berkala dengan sampel 2000 responden yang ditarik random. Hasil kwartal I dan kwartal IV 2021 menunjukkan hasil yang cenderung konsisten.
Perceived severity dan perceived efficacy ditemukan tinggi atau dengan kata lain, orang merasa COVID-19 penyakit yang berdampak parah dan mereka memandang 3M mudah dilakukan. Namun, perceived susceptibility dan response efficacy terbilang rendah atau dengan kata lain orang merasa dirinya tak akan terkena COVID-19 dan ada cara lain yang dipandang lebih efektif dibandingkan 3M.
Apa saja cara-cara yang dipikirkan orang selain 3M?
Survei UNICEF-Nielsen tidak mengajukan pertanyaan itu. Kemungkinan jawaban orang beragam. Yang logis maupun tidak, seperti vaksin, makan-tidur-olah raga teratur, tidak stress, sampai membersihkan hidung dengan air garam. Yang jelas, menurut model EPPM, komunikasi publik perlu meningkatkan lagi variabel response efficacy dan perceived susceptibility.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia