Digandakan atau Diteruskan (mulut ke mulut?)

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Aset komunikasi, seperti poster, leaflet, atau spanduk perlu digandakan agar bermanfaat bagi warga. Tapi, di jaman ekonomi susah, penggandaan acapkali tidak mudah. Makanya, selain bentuk fisik, perlu dipertimbangkan aset komunikasi oral, yang transmisinya dari mulut ke mulut.

Untuk komunikasi oral, pertanyaannya adalah apa yang diteruskan (dari mulut ke mulut) dan bagaimana meneruskannya?

Detailnya, perlu disiapkan: 1) Apa pesan-pesan kuncinya (yang perlu dihafal orang)? 2) Bagaimana ceritanya (yang perlu ditangkap orang)? 3) Bagaimana meneruskannya pada orang lain?

Misalnya, untuk mengedukasi orang tua tentang obat kecacingan, kita bisa rancang sbb.

(1) Pesan-pesan kunci

  • Obat cacing itu penting agar gizi anak tidak dicuri cacing.
  • Karena cacing, gizi anak minus, gizi cacing plus. Beri obat cacing, gizi anak plus, gizi cacing minus.
  • Satu dosis untuk 1/2 tahun, dua dosis untuk sepanjang tahun.

Agar hafal, sampaikan dengan gerakan (visualisasi), repetisi (orang menyebutnya sering), dll.

(2) Ceritanya, semua punya cacing tapi jumlahnya beragam. Rata-rata orang Indonesia memiliki 6 cacing gelang, 50 cacing tambang, dan 100 cacing cambuk. Rata-rata artinya pukul rata, ada yang lebih banyak, ada lebih sedikit atau nol. Yang jelas, semakin banyak cacing, semakin banyak gizi yang dicuri. Karena cacing membuat gizi anak jadi minus, gizi cacing jadi plus.

Cacing berbeda mencuri dengan cara berbeda. Cacing gelang hidup di usus halus. Dia mencuri zat gizi yang sedang diolah dan ditata di usus halus. Makanya, berat badan anak sulit bertambah. Kalau banyak cacing gelang, perut anak terlihat buncit.

Cacing tambang hidup di usus halus. Dia punya gigi, menggigit usus dan hisap darah. Setiap hari dia menghisap sampai 0,2 ml darah. Makanya, anak jadi kurang konsentrasi dan mudah lelah.

Cacing cambuk hidup di usus besar. Tubuhnya mirip cambuk, melukai dinding usus besar. Luka menyebabkan peradangan sehingga air tak bisa terserap. Usus besar menjadi penuh air. Kerja usus halus pun ikut terganggu sehingga tidak bisa menyerap makanan. Zat gizi di usus halus justru meluncur ke usus besar dan keluar dalam bentuk cair (diare), yang kadang disertai lendir (sebagai upaya melindungi jaringan rusak) atau darah (akibat luka).

Untuk meneruskan ke orang, kita bisa numpang di acara Posyandu, Kelas Ibu Balita, kumpulan ibu-ibu PAUD, via pengeras suara mesjid atau tempat ibadah, dll. Bisa pakai permainan atau lagu sebagai pembuka pintu bagi pesan dan cerita. Kalau pakai lagu, kita bisa mulai dengan mengajak warga menyanyi. Misalnya lagu Cublek-cublek suweng yang liriknya diganti jadi begini.

Gelang, tambang, cambuk

Cacingnya malah gemuk

Anaknya jadi lemah

Tubuhnya cepat lelah, kalau main suka kalah

Gi gizinya dicuri, Gi gizinya dicuri


Penulis: Risang Rimbatmaja (Forum KAP/Vitamin Angels)

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas