RCCE - Risk Communication & Comuninity Engagement

Kader tua tonggak Posyandu



Penulis : Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Sab, 03 Feb 2024 - 13:51

Foto: Dokumentasi Pribadi Peserta Jambore Kader 2023

"Bu Kadernya sudah tua, sih. Jadi, tidak update ilmu gizi. Harusnya kader-kader itu yang muda-muda saja."

Kurang lebih begitu sekilas laporan seorang ibu muda di instagram dokter terkenal.

Mungkin generasi si ibu pelapor berbeda. Kayanya dia Mamud Abas (mama muda anak baru satu), yang cukup terdidik, dan semangat mencari ilmu.

Dia mungkin heran mengapa ibu-ibu balita lainnya kok manut-manut pada ibu-ibu kader. Diminta ke Posyandu, datang beramai-ramai. Diberi PMT, yang tidak sesuai panduan gizi anak, malah senyum, berterimakasih, dan bersenang hati.

Dalam ilmu sosial ada pelajaran bahwa kekuatan pengaruh tidak hanya bersumber pada tingkat ilmu seseorang atau kredibilitas berdasarkan expertise. Di masyarakat komunal seperti di Indonesia, pengaruh lebih banyak bersumber kredibilitas berdasarkan trustworthiness atau seberapa dapat dipercaya. Dengan kata lain, apakah bu kader orang yang baik, tulus, perhatian, dan sayang pada warga adalah faktor yang jauh melampaui tingkat sekolahnya.

Malah, seseorang yang punya gelar S3 sekalipun tidak akan diikuti bila warga memandangnya sebagai orang yang ada udang dibalik batu.

Si Mamud Abas itu mungkin tidak pernah tahu dukun beranak atau di Sunda di sebut Paraji (di Kalimantan disebut Bidan Lewu). Pada jamannya, kalau dibandingkan dengan para bidan, Paraji jauh lebih laris manis.

Kalau dibiarkan di pasar bebas, Paraji pasti masih berjaya. Hanya karena ada intervensi pemerintah saja (kadang melibatkan pak polisi alias hukum), maka para Paraji mulai menghilang.

Dari sisi sekolahan, Paraji tentu kalah oleh bu Bidan, yang setidaknya lulusan D3 atau sekarang sarjana terapan. Tapi ibu-ibu hamil percaya akan kebaikan dan ketulusannya dan itu yang membuat mereka mendatanginya.

Balik ke urusan bu kader yang katanya sudah tua.

Justru mereka adalah soko guru atau tonggak Posyandu. Mereka mungkin tidak berpendidikan tinggi, tidak update panduan terbaru, tidak tahu istilah-istilah Jaksel yang keinggris-inggrisan itu. Tapi mereka yang membuat Posyandu dipercaya warga. Dipercaya sebagai lembaga di kampung yang punya hati pada warga di kampung.

Mereka pun bekerja bukan demi fulus. Tanpa pamrih. Jadi, jangan pernah deh mempertanyakan komitmen mereka.