RCCE - Risk Communication & Comuninity Engagement

Bahasa tingkat dewa dalam komunikasi TBC



Penulis : Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Kam, 01 Feb 2024 - 17:36

Foto: Aminatu Rofiah

“Kira-kira, siapa ya kontak erat-nya pak Edi?”
“Bu, ijin kami ingin melakukan IK?”

Mengamati kader-kader TBC sering mengucapkan kata-kata dewa pada praktik kelas, maka pada sesi KAP kami mengajak mereka mengumpulkan semua kata sejenis yang diketahui. Dikumpulkan bersama agar dikenali. Dikenali agar dihindari penggunaannya dalam praktik komunikasi sehari-hari.

Menghindari bukan karena akan membuat warga tidak paham atau bingung tapi kenyataannya, kata-kata itu justru membuat warga curiga atau berprasangka buruk terhadap ajakan komunikator.

Jadi, pesan intinya adalah kita mesti menggunakan kata-kata sehari-hari. Yang mudah dicerna. Bukan yang terdengar asing di kuping warga.

Dalam latihan bersama kader-kader TBC di Bogor, terkumpul cukup banyak kata-kata sulit yang mereka kerap dengar dan bahkan, gunakan, yang sebagian ternyata juga tidak pahami maksudnya.

Sebanyak 40 kader berjejer membentuk 5 jalur. Pakai permainan bisikan berantai (Chinese whisper). Yang paling belakang membisikkan satu kata dewa lalu yang menerima bisikan menyampaikan bisikan itu ke depannya dst. Setelah sampai di ujung, kader terakhir menuliskan di kertas. Selanjutnya, orang ke dua (setelah penulis) pindah ke belakang menjadi pembisik. Demikian sampai waktu 3 menit habis.

Hasilnya cukup banyak. Daftarnya lebih dari 10. Kontak erat, kontak serumah, IK, PCM, mantuk, sputum, droplet, TPT, lini pertama, OAT, SO, RO, immunoglobulin, ILTB, reagen, dll.

Kata-kata itu diperoleh kader dari berbagai pertemuan atau pelatihan, tanpa mendapat bekal apa padanan kata sehari-harinya atau bagaimana cara menjelaskannya dengan mudah, misalnya dengan perumpamaan atau cerita.

Karena kerap mendengar kata-kata itu, lidah mereka jadi terbiasa atau ketelepasan mengucapkannya pada warga.

Padahal, kata-kata itu mestinya cukup menjadi konten dalam juknis. Nakes tentu pakai bahasa juknis, yang mereka sudah kuasai dari kuliah bertahun-tahun. Lagi pula, jalur birokrasi membutuhkan bahasa yang efisien alais ringkas dan sekaligus akurat. Kalau pakai bahasa perumpamaan atau cerita, entah berapa tebal dokumen juknisnya.

Namun, juknis mesti berhenti di kantor, bersama nakes. Kepada warga masyarakat, komunikator mesti menggunakan bahasa mereka. Kata-kata sehari-hari warga, termasuk logikanya.

Ilmu komunikasi memang begitu. Patokannya adalah audience atau khalayaknya. Yang Menciptakan Dunia sudah menunjukkan itu. Silahkan periksa kitab suci, kontennya kebanyakan dalam bentuk cerita, perumpamaan, dialog. Kata-katanya pun kata-kata sehari-hari warga.

Kalau disusun dengan bahasa juknis pasti jauh lebih ringkas. Satu halaman juga cukup. Tapi siapa yang mau baca?