Menurut survei, lebih dari 30% dari kita menderita hipertensi. Yang tahu dirinya hipertensi karena sudah cek hanya sekitar 10%-an. Yang minum obat teratur sekitar segitu juga.
Hipertensi tak dianggap masalah serius mungkin karena tak ada gejala serius yang dirasakan, atau belum mengganggu hidup. Malah dipikir sebaliknya, “Untuk apa minum obat tiap hari? Kan, bisa merusak ginjal.”
Makanya, hipertensi sulit “dijual”. Untuk edukasi hipertensi, kita mesti “jualan” masalah lain.
Dalam pelatihan tata laksana hipertensi di Kota Bekasi bersama tim Puskesmas beberapa waktu lalu, dicobalah mengangkat masalah yang membuat orang khawatir, yaitu jantung, ginjal, dan otak.
Seperti biasa, pesan KAP (Komunikasi Antar Personal) ada yang mesti dihafal orang kata per kata, plek ketiplek. Ada pula yang mesti ditangkap cerita atau perumpamaannya (inti cerita, alur).
Untuk yang dihafal, pesannya: “Kasihan jantung, ginjal, dan otaknya.” Agar hafal, pesan disampaikan berulang-ulang dan dibarengi gerakan tubuh agar terekam kuat.
Untuk yang mesti ditangkap maknanya, dibangunlah cerita.
Serangan jantung membuat orang tiba-tiba pulang ke alam baka. Sore masih ngobrol, paginya meninggal.
Masalah ginjal membuat racun tidak bisa dikeluarkan tubuh, sehingga kaki bengkak-bengkak dan wajah menghitam. Mesti cuci darah dua kali seminggu, dan kalau tidak, lewat.
Masalah otak tepatnya stroke membuat lidah pelo dan lumpuh separuh tubuh. Kalau pun diterapi, setahun hasilnya cuma bisa gerak-gerak sedikit. Kalau fatal, juga bisa mengantar orang ke alam baka.
Untuk elaborasi, dipakai perumpamaan air dalam selang.
Aliran air bisa kencang kalau pompanya bekerja kencang. Bisa juga kalau selang airnya disempitkan (pencet ujung selang, pasti keluarnya kencang). Kalau selangnya panjang ke mana-mana, mau tidak mau tekanan juga mesti kencang supaya sampai ke ujung. Kalau air di toren banyak, keluarnya juga jadi lebih kencang. Terakhir, kalau air mengandung lumpur, jadi lebih berat dan tekanan pun mesti kencang supaya sampai di ujung.
Untuk jantung, edukator bercerita kalau pompa air bekerja keras terus-menerus tanpa istirahat, pasti panas lalu jebol. Jantung kita juga begitu. Bukan tiba-tiba, tapi karena kelamaan kerja keras.
Untuk ginjal, diceritakan bahwa air yang kencang membuat saringan lama-lama jebol. Ginjal—penyaring racun tubuh—bukanlah besi atau plastik keras. Kalau dihajar terus dengan aliran yang kencang, lama-lama rusak.
Untuk otak, diceritakan kalau aliran kencang, selang yang halus dan lembut tidak akan kuat menahan lama-lama. Bisa pecah. Selang yang halus itu adanya di kepala. Kalau pecah, terjadilah stroke.
Dan bagaimana cara menyampaikan pesan-pesan itu?
Tergantung kondisinya. Apakah orang baru tahu dirinya hipertensi? Atau sudah lama tahu? Apakah orang khawatir akan hipertensinya? Atau bodo amat? Apakah pasien putus obat? Lalu apa yang mesti dibereskan? Stres? Kurang tidur? Merokok? Hobi makan asin-asin? Mager? Apakah edukasinya perorangan di meja layanan atau kelompok?
Beda kondisi, beda pula caranya. Kita cicil di artikel berikutnya, ya.
Balikpapan, 2 Juni 2026 – Risang Rimbatmaja (Forum KAP/ VA)
Penulis: Risang Rimbatmaja (Forum KAP/Vitamin Angels)