Sebuah survei menemukan sejumlah sebab orang tua tidak mau mengimunisasi anak. Dua di antaranya, 1) tak dapat ijin suami atau keluarga, 2) khawatir efek samping.
Dalam kacamata komunikasi perubahan perilaku, dua sebab itu tidak berada pada level yang sama. Pada salah satu, edukator dapat merumuskan pesan-pesan sementara atau hipotetif (untuk kemudian diuji-coba). Pada yang lain, edukator masih buta dan sulit merumuskan pesan sementara sekalipun.
Dengan temuan pertama, tidak dapat ijin suami atau keluarga, edukator sulit merumuskan pesan karena tidak tahu apa masalah komunikasinya. Apa yang menyebabkan suami atau keluarga tidak mengijinkan? Apakah karena persepsi terkait halal haram? Memandang imunisasi tak berguna? Khawatir efek samping? Atau jangan-jangan, sibuk?
Sementara, dengan temuan kedua, khawatir efek samping, edukator dapat menyusun pesan-pesan sementara. Edukator juga dapat memilih taktik-taktik pesan tertentu.
Dia bisa mencoba yang direct (langsung), misalnya dengan mengatakan imunisasi aman buat anak. Ayo, imunisasi anak Anda!
Atau indirect (tidak langsung), misalnya dengan mengatakan atau menggambarkan orang tua menjadi tenang setelah anaknya di-imunisasi. Anak-anak bermain dengan bebas dan gembira bersama teman-temannya.
Atau yang explicit seperti imunisasi ini telah diuji oleh lembaga berwenang di negeri ini maupun di global dan dinyatakan aman. Sudah banyak negara yang menggunakan imunisasi ini. Kualitasnya terjamin karena didistribusikan dan disimpan dalam standar tinggi. Vaksinatornya pun terlatih, dan lain-lain.
Atau implicit seperti menyampaikan adanya penyakit berbahaya yang bisa membuat anak mengalami ini dan itu. Lebih baik melindungi anak kita dari pada mengobatinya. (Tanpa menyebut imunisasi secara terbuka).
Atau bisa juga menggunakan pilihan taktik lain yang banyak di luar sana atau kombinasi.
Yang jelas, agar bisa merumuskan pesan komunikasi, edukator perlu mengetahui dulu apa masalah komunikasinya.
Khusus model Komunikasi AntarPribadi(KAP), edukator perlu mengobrol akrab dan (pahami) masalah dulu. Mengobrol bersama orang tua yang menolak dan bukan menceramahi. Buat agar saling terbuka, mendengarkan, dan memahami. Setelah itu, barulah pesan yang pas disampaikan.
Pesan apa yang disampaikan? Ya, itu tadi. Tergantung, apa masalah komunikasinya .
Catatan:
Masalah komunikasi untuk imunisasi di tingkat perorangan biasanya berkutat pada 3 hal berikut.
- Khawatir efek samping. Mulai dari yang merepotkan seperti demam, rewel dll., sampai yang menakutkan, seperti mandul, kematian, dll.
- Memandang tidak ada manfaatnya. Orang dulu tak diimunisasi sehat. Kakaknya pun demikian.
- Masalah halal-haram
Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP