Jadikan A sebagai prioritas pemerintah yang ditunjukkan dengan regulasi dan alokasi anggaran. Ini adalah contoh tujuan advokasi. Contoh-contohan saja.
Yang dimaksud A bisa macam-macam. Masalah stunting, malaria, imunisasi, diare dan lain-lain.
Persamaannya, si A ingin dijadikan prioritas.
Tapi, sebentar.
Bukankah, pemimpin sebetulnya sudah punya prioritas? Misalnya, pemerintah saat ini sudah menetapkan stunting sebagai salah satu prioritas.
Dengan begitu, mengadvokasi satu isu baru untuk menjadi prioritas berarti berkompetisi dengan prioritas yang ada. Perlu berkompetisi karena sumber daya kan terbatas.
Bukan hanya berkompetisi dengan prioritas yang sudah ada namun juga berkompetisi dengan usulan prioritas yang diadvokasi pihak-pihak lain.
Dari perspektif komunikasi, yang paling “tertekan” pasti yang diadvokasi, yang prioritasnya “diadu” dengan yang pihak-pihak lain. Siapa sih yang suka prioritasnya tidak dianggap penting? Atau bahkan, diotak-atik?
Sebetulnya ada pendekatan (komunikasi) yang tidak beradu/ berkompetisi merebut posisi prioritas.
Lawan kompetisi adalah kolaborasi.
Diadu lawannya diharmonisasi.
Bayangkan seorang pemimpin sudah punya sebuah prioritas. Lalu, kita datang dengan gagasan untuk mendukung prioritasnya. Bagaimana kira-kira tanggapannya?
Pasti akan senang karena kita membantu prioritasnya.
Langkah pertama advokasi yang harmonis adalah memahami apa prioritas pemimpin saat ini. Kalau stunting menjadi prioritas, maka ketimbang berusaha mengangkat isu lain untuk menjadi prioritas, posisikan isu kita sebagai pendukung stunting.
Misal isu kita adalah malaria, maka posisikan sebagai pendukung program (prioritas) stunting.
Tunjukkan bahwa mengatasi malaria dapat membantu menurunkan stunting. Kemukakan bukti dan logika bila anak baduta (bawah 2 tahun) mengalami sekian kali episode malaria, pertumbuhan tinggi badannya berkurang sekian cm.
Kalau pemimpin menerima dengan tangan terbuka, terbukalah jalan menjadikan isu kita sebagai prioritas. Tentu, bukan prioritas dalam kesendirian tapi prioritas yang mendukung prioritas pemimpin saat ini.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia