Pelatihan KAP sekarang mengadopsi model belajar pesannya dulu, baru kemudian metodenya. Ibaratnya, prajurit diperkenalkan dulu dengan pelurunya, baru kemudian senapannya.
Ini kebalikan dengan model sebelumnya, belajar senjata baru dulu, baru kemudian pelurunya.
Tapi bukankah lazim di pelatihan komunikasi diawali pemaparan program, yang mengandung pesan?
Begini. Yang dimaksud pesan di sini adalah pesan komunikasi. Bukan pesan versi program.
Ambil contoh, pelatihan komunikasi pencegahan DBD. Di sesi awal, dijelaskan DBD adalah penyakit yang disebabkan virus dengue, ditularkan via gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala utama: demam tinggi mendadak (hingga 39–40°C), sakit kepala, nyeri belakang mata, bintik-bintik merah, dll.
Bila dari sini langsung membahas metode komunikasi (taktik, tahapan, dan aset komunikasi), maka: 1) banyak komunikator belum selesai mencerna dan masih kebingungan dengan bahasan program; 2) mereka akan larut belajar metode yang riuh ramai permainan sehingga lupa materi pertama.
Karena itu, dari sesi program, sesi selanjutnya adalah belajar pesan komunikasi.
Dari contoh DBD di atas, misalnya, peserta belajar DBD itu penyakit berbahaya karena demamnya menipu. Dibawa nyamuk Aedes aegypti yang kerja shift siang, virus dengue ditularkan dari orang sakit ke orang sehat. Setelah masa peperangan 4–10 hari dalam tubuh (masa inkubasi), antara virus dan para pendekar tubuh, bila virus menang, muncullah gejala: tiba-tiba demam tinggi, sakit kepala, dll. Tapi demamnya menipu, karena di hari 4–7 suhu tiba-tiba turun dan orang pikir sudah sembuh, makanya pergi kerja, sekolah, atau beraktivitas kembali. Padahal, masa itu adalah masa kritis.
Virus dengue membolongi pipa-pipa dalam tubuh sehingga banyak bocor. Makanya, muncul bintik-bintik merah (darah). Bocor perlu ditambal dan penambalnya trombosit. Karena banyak kebocoran, trombosit yang dipakai pun banyak sehingga jumlahnya berkurang.
Di hari ke-4–7 itu, suhu tubuh yang turun bukan karena sembuh, tapi karena terlalu banyak kebocoran. Banyak cairan keluar dari pipa sehingga tubuh jadi adem.
Tapi karena banyak bocor, tekanan darah pun turun. Ibaratnya, tekanan air ledeng turun, air pun tak bisa naik ke lantai 2. Tekanan darah anjlok. Tubuh mengalami shock. Orang pun bisa lewat.
Di atas adalah contoh belajar pesan dengan cerita/perumpamaan. Komunikator mesti hafal pernyataan DBD itu demamnya menipu dan, dengan kata-katanya sendiri, dapat bercerita tentangnya.
Ada pula pembelajaran pesan dengan irama, lagu, atau gerak, baru kemudian cerita sebagai elaborasinya. Misal, bicara manfaat MMS, yang mesti dihafal komunikator: persalinan lancar dan anak jadi pintar. Mereka menghafal via ucapan dan gerakan, kemudian lagu. Setelah itu, belajar cerita/perumpamaan yang mengelaborasi pernyataan itu.
Jadi, setelah belajar pesan komunikasi, dengan target: 1) hafal pesan kunci, gerakan, maupun iramanya dan 2) bisa mengelaborasi via cerita/perumpamaan, dengan kata-katanya sendiri, barulah masuk ke sesi belajar metode atau senapannya. Di sini, komunikator belajar langkah, teknik komunikasinya, sampai berbagai aset (permainan, alat bantu, dll).
Pasar Minggu, 11 Mei 2026 – RR (Forum Kemisan/VA)
Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP