Hoaks imunisasi berseliweran. Mau melakukan edukasi publik tapi tak ada anggaran. Bagaimana ini?
Ada kegiatan edukasi yang perlu anggaran, ada yang tidak.
Kalau terbatas, fokus ke yang gratisan.
Mulai dari platform. Cari yang tidak berbayar, seperti sosmed, WA, ataupun WAG.
Tidak memiliki anggaran untuk membuat konten? Pakai AI, yang gratisan, seperti Co-Pilot atau ChatGPT.
Edukator tinggal fokus menyusun pesan. Namun, idealnya sih konten disediakan pusat. Edukator tinggal memainkan taktik komunikasinya.
Mau masuk ke platform lapangan seperti KAP (Komunikasi Antarpribadi)?
Numpang saja. Nunut alias piggy backing atau nyelip-nyelip (insertion) pada kegiatan yang sudah ada (sehingga tidak butuh anggaran).
Yang dibutuhkan adalah daftar/pemetaan dan hubungan (baik). Coba buat daftar kegiatan kumpul-kumpul berkala. Catat: nama kegiatan, frekuensi, penyelenggara, tempat, waktu/hari/tanggal, profil & jumlah peserta, tingkatan (wilayah), durasi kegiatan, durasi (peluang) nyelip, dan kontak.
Semisal:
Pertin PKK | setiap bulan | PKK | Aula Kelurahan | Sabtu minggu pertama | Ibu-ibu PKK usia 45–60 tahun, 50 orang | Kelurahan | 1,5 jam | 15-20 menit | Emi di nomor…
Untuk bisa masuk mengisi atau numpang ke kegiatan mereka, edukator mesti memiliki hubungan baik. Bukan hanya kenal host/pengurus organisasi, tapi lebih baik, pernah membantu mereka. Dengan begitu, ketika kita butuh slot, mereka memberikan dengan senang hati.
Kegiatan yang bisa ditumpangi pasti banyak, seperti pertemuan arisan, pengajian, pertemuan kelompok tani, Posyandu, musyawarah, pra-jumatan, dll. Jangan-jangan setiap minggu ada.
Edukator juga bisa mendata dan memanfaatkan kegiatan kumpul kurang terorganisir. Maksudnya, orang-orang berkumpul bukan untuk mendengarkan narasumber, tapi untuk tujuan lain, seperti orang-orang di pasar, habis jumatan, giat berolahraga, menunggu anak sekolah, dll.
Untuk ini, edukator perlu siap pengeras suara dan opsi strategi edukasinya.
Ringkasnya, kegiatan edukasi tidak selalu membutuhkan anggaran. Edukator perlu catatan daftar kegiatan/kesempatan tidak berbayar (baik yang terorganisir maupun tidak terorganisir), dan hubungan baik dengan host atau tuan rumah.
Sulit bila ketiga hal di atas belum dimiliki. Mau tidak mau, perlu upaya dan anggaran dulu.
Tapi kalau ketiga hal itu dikuasai, kerja edukasi tanpa anggaran bisa dilakukan.
Tapi, bagaimana dengan kebutuhan transportasi? Nah, kayanya itu butuh kelegaan hati.
Garut, 5 Mei 2026 – RR (Forum KAP/VA)
Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP