Komunikasi Belum Dukung Minum Obat Habis

Sumber Foto: Dokumentasi Forum KAP dalam kegiatan pelatihan Komunikasi Efektif untuk Terapi Pencegahan Tuberkulosis, Kota Surabaya
Sumber Foto: Dokumentasi Forum KAP dalam kegiatan pelatihan Komunikasi Efektif untuk Terapi Pencegahan Tuberkulosis, Kota Surabaya

Minum obat sampai habis adalah masalah serius di Indonesia. Karena akibatnya memang serius. Bukan hanya masalah tidak sembuh tapi munculnya bibit penyakit resisten obat. 

Penderita TB regular yang DO memunculkan bakteri resisten obat lini 1, yang membutuhkan pengobatan lebih panjang dan obat yang lebih keras. 

Kasus DO minum obat juga banyak terjadi di isu-isu lain, seperti malaria, antibiotika, TTD dan lain-lain. Karenanya, kita perlu segera mengembangkan pendekatan atau model untuk mengurangi DO atau meningkatkan kepatuhan.

Bukan satu-satunya tapi salah satu titik edukasi kritis adalah di titik layanan pemberian obat. Mencoba memahami apa yang terjadi, saya mengamati komunikasi yang terjadi di sana dan berikut adalah catatan singkat pengamatan di Puskesmas dalam 2 bulan terakhir.

1) Ada narasi-narasi yang kontraproduktif untuk meningkatkan kepatuhan dan perlu diperbaiki.

“Kalaupun sudah sembuh, obat tetap diminum, ya.”

Ini kontradiktif. Kalau sudah sembuh, untuk apa minum obat? Bukankah sembuh tujuan akhir?

Pernyataan perlu diubah menjadi, “Kalau pun badan sudah enakan, bibit penyakitnya belum mati, obatnya tetap dihabiskan, ya.”

“Minum obat yang teratur, ya supaya cepat sembuh”

Bagi pasien, patokan minum obat di sini adalah teratur. Sesuai jadwal. Bukan sampai habis. Sehingga, kalau sudah teratur dan sembuh, bisa diakhiri (walau belum habis). 

Agaknya perlu ditajamkan, “Minum obat sampai habis ya, supaya sembuh.”

2) Yang minus dalam percakapan nakes dan pasien adalah a) percakapan tentang akibat bila tidak minum obat sampai habis. Di sini, nakes bisa menggunakan perumpamaan untuk menguatkan.

Semisal, “Kalau Ibu minum obat sampai habis, nanti lekas sembuh. Setelah beberapa hari minum obat badan memang terasa enakan, tetapi bibit penyakitnya belum mati. Baru pingsan. Kalau berhenti minum obatnya, bibit penyakit nanti bisa bangkit kembali. Bibit penyakitnya lebih kuat dan bisa mengalahkan obat yang sekarang. Untuk menyembuhkannya perlu obat yang lebih keras. Efek sampingnya pun keras.”

b) percakapan mengunci komitmen. Yang banyak berlangsung saat ini hanya pernyataan nakes. “Diminum obatnya, ya!” Padahal, pasien sulit berkomitmen pada omongan orang lain (nakes) dan lebih berkomitmen pada kata-katanya sendiri. Untuk mengunci komitmen, pasien perlu digiring masuk dalam tahapan percakapan berikutnya, termasuk diragukan untuk diteguhkan dan dirinci agar pasien bisa membayangkan perilakunya.

c) percakapan untuk membentuk kebiasaan atau habit forming. Ini bisa memilih model yang paling sesuai dengan situasi dan kebiasaan pasien.


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas