Mengakali Selective Exposure

Sumber Foto: Dokumentasi Forum KAP dalam kegiatan uji coba pelatihan modul Suplementasi Materi Penyuluhan Imunisasi BKKBN di Kabupaten Garut
Sumber Foto: Dokumentasi Forum KAP dalam kegiatan uji coba pelatihan modul Suplementasi Materi Penyuluhan Imunisasi BKKBN di Kabupaten Garut

Exposure is always selective, kata Lazarsfeld (1944), embahnya ilmu komunikasi. Maksudnya, terpaan pesan berlangsung tergantung dari sikap orang. 

Kalau orang punya sikap positif pada komunikator atau pesannya, kemungkinan besar orang akan memperhatikan komunikator. Kalau komunikator atau pesannya kurang atau tidak disukai, maka apapun yang disampaikan, panjang lebar, sampai berbuih-buih pun akan diabaikan. 

Jadi, saat mengedukasi, pesan-pesan yang kita sampaikan tidak otomatis “sampai” dan “diterima” orang-orang, meski mereka duduk di depan kita. 

Mereka punya pilihan, mendengarkan atau mengabaikan. Atau selang seling di antara keduanya.

Sumber ketidaksukaan bisa bermacam-macam. Ada yang kurang substansial seperti perbedaan profil, gaya komunikasi atau kecurigaan-kecurigaan superfisial lainnya. Ada pula yang lebih nyata, seperti pengalaman interaksi masa lalu, verbal maupun nonverbal, konflik atau lainnya.

Sebagai komunikator kesehatan, kita tidak memiliki ruang untuk memilah milih khalayak. Siapa pun yang berkumpul, merekalah yang mesti kita edukasi.

Lantas, bagaimana caranya mengakali selective exposure dari orang-orang yang kebetulan kurang menyukai kita sebagai komunikator atau pesan yang ingin disampaikan?

Di sinilah manfaatnya pendekatan indirect atau tidak langsung. 

Tidak langsung bisa berarti kita tidak langsung menonjolkan diri, melainkan membiarkan orang-orang yang berdiri dan berbicara. Makanya, saat sesi kenalan, kita sebagai komunikator mesti “tenggelam” dan yang bermunculan adalah orang-orang lain.

Tidak langsung juga berarti tidak to the point. Ajak dulu orang-orang bermain. Ice breaking—agar lebih nyaman satu sama lain. Tujuan utamanya adalah membuat orang tertawa dan bergembira.

Tidak langsung juga berarti tidak mengajari langsung, seperti halnya guru-siswa. Ajak orang-orang bermain sambil saling belajar satu sama lain. Semua guru, semua siswa.

Pendekatan tidak langsung memang membuat komunikator kurang menonjol. Tapi rasanya ga apa-apa. Kan yang penting pesannya sampai. Syukur-syukur diterima.


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas