Satu masalah kesehatan bisa didekati pesan berbeda. Edukator bisa ambil jalur “harapan” atau sebaliknya, “menakut-nakuti”.
Semisal, saat mengajak ibu hamil minum MMS (multivitamin khusus bumil pengganti TTD), edukator bisa membahas mimpi jadi apa anak besar nanti.
Taruhlah mimpinya jadi pengusaha, maka obrolan bisa berlanjut ke pentingnya berpikir cepat dan kreatif. Lalu, mengaitkan MMS dengan kemampuan otak karena MMS mengandung zat besi dan beragam vitamin yang membantu penyerapannya, yaitu Vitamin C, E, dan Kuprum.
Sebaliknya, educator juga bisa menakut-nakuti. Bisa dimulai fakta rerata skor IQ orang Indonesia hanya 93, di bawah rata-rata dunia yang di angka 100. Skor rendah ada kaitannya dengan buruknya gizi bumil. Berlanjut ke teori 80% sel otak bertumbuh dalam periode emas 1000 HPK (Hari Pertama Kelahiran: sejak dalam kandungan sampai usia 2 tahun pertama). Makanya, kalau tidak optimal di periode itu, saat dewasa jadi kurang pintar. Mengejar “kepintaran” setelah dua tahun sangat sulit atau cenderung mustahil. Karena kurang pintar, sulit berprestasi, di sekolah maupun dunia kerja.
Setelah membuat khawatir, edukator dapat mengenalkan MMS sebagai jalan keluar mudah.
Edukator perlu memilih salah satu sebagai pendekatan yang dominan. Tapi pilih yang mana? Berikut panduan yang bisa dicoba.
Pesan membangun harapan digunakan saat…
- Situasi tidak mendesak. Masalahnya penting tapi tidak mematikan atau memburuk seketika atau dalam waktu dekat.
- Yang disasar perilaku jangka panjang & kompleks Bukan sekali sudah, seperti test, vaksinasi, dll.
- Orang sudah khawatir/ takut atau sedih. Ibu sudah sedih anaknya bermasalah gizi.
Pesan menakut-nakuti (kemudian digandeng pesan jalan keluar) digunakan saat
- Situasi mendesak. Orang harus segera berubah kalau tidak masalah cepat memburuk.
- Yang disasar adalah perilaku sesaat, one off, dan simpel.
- Orang tidak takut. Orang santai-santai saja, menunda-nunda, kurang peduli.
Dengan kerangka di atas, kita bisa menduga pendekatan yang lebih cocok untuk stunting, gizi buruk, ibu hamil anemia, atau masalah gizi lainnya. Sementara, pendekatan berbeda diperlukan untuk tes kanker serviks, imunisasi, dll.
Kita juga bisa menduga-duga pendekatan yang lebih cocok untuk mengajak orang berobat TBC tuntas, yang berbeda dengan mengajak orang tes TBC.
Pasar Minggu, 2 February 2026 (RR – Forum KAP/ VA)
Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP