Larangan atau Alasan Dulu

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Kemenkes tegaskan bayi korban bencana di Sumatera tidak boleh diberi susu formula. Demikian judul suatu konten sosial media. 

Beragam reaksi muncul di kolom komentar. Banyak yang kontra. Cukup banyak juga yang pro. Tapi yang pro tampak keteteran menjelaskan latar belakang kebijakan, yang tak terbaca pada judul maupun artikel lengkapnya.

Ini namanya communication breakdown di mana pihak-pihak yang berkomunikasi tidak bisa saling menangkap makna. Komunikasi yang terburu-buru sering menghasilkan situasi seperti ini. 

Awalnya adalah masalah pembingkaian atau framing pesan. Masalah mana yang ditonjolkan dan mana yang tidak ditonjolkan. Mana yang pertama dan mana yang belakangan.

Reaksi negatif muncul karena pesan diawali dengan dan menonjolkan larangan. Reaksi yang berbeda mungkin muncul bila latar belakang atau alasannya dulu yang disampaikan.  

Terkait dengan ini ada studinya, kok

Sebuah field experiment berlangsung saat antrian di pusat perbelanjaan di mana ada orang yang minta didahulukan tapi dicoba cara berbeda pada kesempatan berbeda. Ada yang bilang boleh saya nyelak? (kurang lebih dalam bahasa kita). Pada kesempatan lain, dilengkapi dengan alasan. Boleh saya nyelak? Kasihan anak saya menunggu di mobil (Kurang lebih begitu). Saya lupa alasan persis yang digunakan dalam studi itu). Terakhir, ada yang menyampaikan alasannya di muka. Anak saya menunggu di mobil, boleh saya nyelak?

Mudah ditebak, yang dibolehkan oleh kebanyakan orang yang sedang antri adalah cara yang ketiga. Alasan di depan.

Jika diterapkan pada urusan susu formula, yang perlu dikedepankan adalah alasannya. Kemungkinan, reaksi orang akan berbeda bila disampaikan:

  • Bayi korban bencana di Sumatera jangan sampai kena diare. Maka itu, jangan beri susu formula.
  • Bayi korban bencana Sumatera berisiko kena diare bila diberi susu formula. 

Mungkin, ya.

Pancoran, 11 Desember 2025 – RR (Forum KAP/ VA)


Penulis: Risang Rimbatmaja, Forum KAP

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas