Jangan Dorong Orang Menolak Imunisasi

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Saat vaksin baru diintroduksi, survei-survei publik biasanya menunjukkan prosentase warga ragu-ragu cukup besar. Sementara, yang tegas-tegas menolak, lebih kecil.

Upaya persuasi sebetulnya lebih efisien diarahkan pada kelompok ragu-ragu atau setidaknya mereka yang belum membuat pilihan harga mati. Tapi caranya mesti cermat. Jangan sampai justru nge-jorokin (Bahasa Betawi untuk mendorong) warga ke arah tidak mau.

Contohnya kasus nyata berikut.

Orang tua : “Bu Guru, maaf, Adi tidak usah di-imunisasi saja ya? Saya khawatir ada apa-apa.”
Guru : “Wah, bu Jaenab. Jangan dong. Kalau ga mau, harus buat surat pernyataan, lho.”
Orang tua : “Ya, ga apa-apa deh, bu. Ada contohnya?”
Guru : “Sebentar, ya. Ini formulirnya.”
Orang tua : “Saya isi ya, bu.”

Ketika seseorang datang dengan bahasa minta ijin, sebetulnya dia belum sampai nolak harga mati. Hal sama ditunjukkan saat orang bertanya, mengutarakan kekhawatiran, atau mengusulkan pilihan.

Mereka masih membuka pintu dialog.

Kita jangan menutup pintunya.

Saat orang tua minta ijin anaknya tidak diimunisasi karena khawatir, maka tanyakan, apa yang menjadi kekhawatirannya? Lalu, dengarkan dengan baik dengan cara bertanya-tanya untuk memahami lebih dalam.

Setelah mendengarkan, jangan bersikap judgmental atau menyalahkan pandangan orang tua. Semisal, “Wah, informasi yang Ibu dapat benar-benar salah!”

Apalagi merendahkan. “Ibu kayanya belum paham kerja vaksin.”

Lebih baik kita mencari sesuatu yang dapat diapresiasi dan sampaikan dengan tulus.

“Wah, ibu ternyata rajin mengaji, ya. Saya tuh sebetulnya pengen banget. Cuma masih cari waktu.”

“Ibu Jaenab rajin banget cari info. Ditata dengan rapih pula. Kalau perlu kan gampang mencarinya ya. Kayanya saya perlu begitu juga.”

Dengan mengapresiasi diharapkan orang lebih membuka diri. Pagarnya terbuka bagi pesan-pesan kita. Setelah itu, barulah pesan persuasif, yang merespon kekhawatiran, disampaikan.

Apakah sikap orang langsung berubah?

Dunia nyata tidak semudah itu. Butuh proses. Kita tidak boleh memaksa orang segera menentukan sikap. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha tetap membuka ruang dialog. “Ibu Jaenab pikir-pikir dulu coba. Nanti sore kita telp-an bagaimana? Atau WA-an?”


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas