Jurus Persuasi Kader untuk Membuat Orang Tidak Takut Vaksinasi

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Survei-survei menemukan salah satu alasan orang enggan divaksinasi adalah takut atau khawatir efek samping. Takut terjadi sesuatu. Takut nanti dirinya atau anaknya demam atau bahkan, seperti dihembuskan beragam hoaks, sakit berkepanjangan, lumpuh atau bahkan meninggal.

Relawan COVID-19 di kampung-kampung mengenal betul persoalan ini. Ada yang berhasil membuat warga jadi tenang dan tidak takut (reassurance) tapi ada pula yang mundur teratur.

Mengobrol dengan sejumlah relawan NU di Kota Cirebon, dijumpai sejumlah teknik komunikasi yang menurut mereka acapkali berhasil menghilangkan takut pada warga (29/3/2022). Salah satunya adalah penggunaan testimoni diri dan kasus di sekitaran yang bisa diamati warga.

Menurut mereka, persuasi dengan data (riset) atau argumen ilmiah/ logis kurang berpengaruh.

Ketakutan warga sulit hilang bila hanya menyampaikan bukti riset hanya 1 dari 10 orang mengalami gejala ringan pasca-vaksinasi, seperti demam ringan, yang sembuh sendiri dalam beberapa hari. Atau menjelaskan substansi vaksin, virus yang dilemahkan atau bagian tertentu dari virus, yang tidak mungkin membuat orang sakit.

Warga ingin melihat bukti di sekitaran mereka.

Karenanya, saat vaksin COVID-19 dikenalkan relawan-relawan sergep minta divaksinasi duluan. “Katanya saya seperti kelinci percobaan. Tapi ga apa-apa,” ujar Eni, salah seorang relawan.

Selesai divaksinasi mereka bisa “menjual dirinya” pada warga lain. “Saya lho sudah divaksin dan tidak apa-apa, kan?” ujar Yati, kader Kelurahan Kemantren.

“Satu waktu ada warga yang takut divaksin karena pernah TB, saya langsung bilang, ini lho saya mantan TB, ada asma, tensi suka tinggi tapi ga apa-apa kok,” ujar Eni.

Dalam banyak kasus, mereka juga mesti “menjual” orang lain (yang sudah divaksin) karena masalahnya berbeda. Di sini, implisit mereka menekankan pentingnya similarity.

Sewaktu mengajak lansia, kasus seseorang lansia yang diceritakan. Kalau bumil, maka kasus bumil.

Kader-kader Cirebon itu learning by doing tapi teknik-teknik mereka sebetulnya bisa dibuat programatik, misalnya dengan tahapan sbb.

  1. Membekali relawan-relawan dengan teknik persuasi berbasis testimoni & kesamaan kasus (similarity).
  2. Relawan mendapatkan layananan vaksinasi terlebih dahulu (kalau imunisasi anak, maka anak relawan diberikan terlebih dahulu).
  3. Relawan diminta mengajak orang-orang di lingkungan yang sudah mau atau mudah dipengaruhi (early adopters). Mereka harus memiliki beragam profil karena kelak orang-orang itu akan “dijual” pada warga lainnya sesuai profilnya.
  4. Untuk menambah perbendaharaan orang yang “dijual”, relawan bisa berkenalan dengan peserta vaksinasi di sentra vaksinasi. Sambil mengedukasi, relawan berkenalan dengan banyak peserta vaksinasi, yang nantinya bisa “dijual” ke warga lain.

Jadi, sebagai prasyarat, relawan dan early adopters mesti menerima vaksinasi duluan. Supaya bisa jualan di kampung. Buat orang-orang di kampung, artis ibu kota mungkin berita menarik tapi belum tentu bisa menghilangkan ketakutan mereka pada vaksin.


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas