Memotivasi Orang Awam Promosi Imunisasi

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

Bila hanya mengandalkan nakes, promosi imunisasi sulit kemana-mana. Apalagi banyak yang sibuk mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Promosi imunisasi, gizi, anti tembakau, dan lain-lain. Karena itulah, demi menambah barisan promotor, orang awam (non-kesehatan) perlu diajak.

Salah satu momen yang menentukan motivasi orang awam adalah saat mengikuti pelatihan. Salah-salah, orang awam bisa mundur teratur. Tapi kalau pas, mereka siap bertempur.

Belajar dari sejumlah pengalaman, berikut beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk pelatihan promosi imunisasi bagi orang awam.

Pertama, mantapkan hati mereka dulu. Adakalanya orang awam masuk ke ruangan dengan sejumlah pertanyaan. Bagaimana efek sampingnya? Apakah halal? Betulkah melindungi anak?

Kegundahan tidak boleh dipendam dalam hati tapi mesti tersampaikan, didengarkan pelatih, disikapi empatik, dan diklarifikasi dengan penjelasan yang mudah diikuti pikiran orang awam. Gunakan kombinasi perumpamaan dan sedikit argumen ilmiah. Satu hal penting, hindari sikap otoriter.

Kedua, hilangkan beban kerja komunikasi. Beban muncul saat orang awam ditargetkan untuk mengubah sikap dan perilaku. Jangan arahkan ke sana. Kenalkan saja cara pandang komunikasi yang membangun hubungan akrab (relational communication) dan tidak melulu meningkatkan penerimaan imunisasi (instrumental communication). Tekankan ide penerimaan imunisasi orang juga dipengaruhi keakrabannya dengan komunikator. Jadi, kesampingkan dulu niat mengubah sikap dan perilaku warga dan ganti dengan niat berkenalan atau berteman baik.

Ketiga, tunjukan komunikasi imunisasi itu mudah. Makanya, jangan bombardir mereka dengan konsep asing, jargon, atau logika yang pelik. Yang seperti itu justru akan men-demotivasi. Intinya jangan sampai muncul pikiran, “Saya saja tidak paham. Bagaimana saya bisa menyampaikannya ke warga lain?”

Sebaliknya, jelaskan dengan perumpamaan, analogi, ilustrasi atau cerita yang memudahkan komunikator memahami dan kemudian, menjelaskan ke warga.

“Imunisasi itu melatih pendekar dalam tubuh anak supaya bisa melawan jurus-jurus para penjajah.”

“Kalau dua kali di-suntik lalu setelah itu, tetes ke mulut, bahaya ga buat anak?”

“Begini Bu. Kalau latihan silat kan anak-anak juga suka sekali latihan belajar dua jurus sekaligus, ya?”

Keempat, jangan cuma konsep tapi teknik-teknik praktis. Jangan cuma mengajarkan bahwa agar warga mudah menerima pesan imunisasi, kita harus mengajak warga bermain sambil belajar. Tapi, bekali komunikator orang awam dengan sejumlah permainan. Bukan hanya menunjukkan tapi ajak mereka mencoba sampai mantap.

Kelima, bangun solidaritas antarpromotor orang awam. Bangun modal sosial. Selama pelatihan, ajak mereka saling mengenal. Mudahkan mereka mengobrol satu sama lain. Cari pertalian. Bangun semangat bersama. Ini modal yang bisa membuat orang awam semangat bergerak. Mereka tidak punya atasan. Bisa jadi uang pun pas-pasan. Tapi kalau sudah karena teman, tentu bisa semangat betulan.


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas