Karena pertimbangan waktu terbatas, hanya tersedia sekitar 10 menit, dan tempat riuh, seorang promotor kesehatan memilih metode low cognition dengan menargetkan emotional response gembira untuk mengedukasi ibu-ibu di Posyandu. Diajaklah ibu-ibu berdiri dan bermain. Ibu-ibu tertawa terpingkal-pingkal. Sejurus kemudian dia menyampaikan pesan-pesan tentang imunisasi. Namun, tidak ada yang mendengarkan. Ibu-ibu masih tertawa dan asyik sendiri. Merasa gagal, akhirnya dia kesal sendiri dan memandang metode yang dipilih tidak tepat.
Apa yang belum pas?
Di atas kertas, metode low cognition atau metode yang tidak banyak melibatkan upaya berpikir, cocok untuk situasi edukasi kelompok warga yang waktunya terbatas, tidak konsen berpikir karena suasana ramai atau warga sedang tidak konsen. Warga diajak bermain, dengarkan humor atau cerita yang memunculkan luapan emosi, entah gembira, senang atau sebaliknya, sedih atau khawatir. Dalam keadaan luapan emosi demikian, diharapkan “pintu gerbang” warga terbuka untuk menerima pesan-pesan komunikator. Untuk kelompok warga yang sebelumnya memiliki sikap negatif pada perilaku yang ingin dipromosikan, metode low cognition dapat mencegah terpicunya reaksi negatif saat promotor Kesehatan menyampaikan pesan.
Namun, bila tidak dijalankan dengan cermat, metode low cognition hanya akan menghasilkan kegembiraan atau kekhawatiran saja. Orang bersenang-senang tapi tidak ada pembelajaran yang mereka bisa dapatkan dari sesi itu.
Agar dapat mengantar ke sesi pembelajaran singkat, promotor kesehatan perlu memperhatikan beberapa hal berikut.
Selaraskan nonverbal. Saat ibu-ibu bergembira, jangan sibuk mempersiapkan materi. Ikuti saja kegembiraan mereka. Ikut tertawa. Ikut komentar atau bergerak-gerak bersama ibu-ibu.
Jembatani dengan pertanyaan. Lempar pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah. Bertanya adalah cara menarik perhatian ibu-ibu yang sedang asyik sendiri dan masuk ke materi pembelajaran. Pertanyaan yang dilemparkan harus berhubungan dengan permainan yang barusan dimainkan. Lempar pertanyaan tertutup terlebih dulu (yang orang tidak perlu berpikir untuk menjawabnya). Kemudian, baru lempar pertanyaan terbuka.
Misalnya, setelah bermain:
Kebal Kena (adu tepuk telapak tangan)
Ngomong-ngomong tentang kebal, anak kita bisa kebal penyakit ga sih?
Bagaimana caranya?
Pemainan Tangkap Jari (kata kunci: sakit)
Apa ada orang tua yang mau anaknya sakit?
Ibu-ibu, ngomong-ngomong tentang sakit, bagaimana caranya supaya anak tidak kena sakit?
Penjelasan yang imajinatif. Saat ibu-ibu sudah mengikuti pertanyaan kita atau dengan kata lain, pintu terbuka bagi materi pembelajaran, jangan tiba-tiba mengubah suara menjadi datar dan seperti berceramah atau memberi kuliah. Tetap selaraskan dengan suasana saat itu. Kalau sedang bergembira, suara mesti bergembira juga.
Gunakan bahasa theater of mind untuk menjelaskan materi. Jangan hanya lisan, bergerak-geraklah untuk menguatkan pesan.
Mengunci komitmen
Setelah menyampaikan materi singkat, sampaikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengunci komitmen.
Misalnya,:
Ibu-ibu mengucap pesan kunci sendiri. Jadi bagaimana ibu-ibu, apakah kita tega anak kita sakit? Kalau tidak, apa yang perlu dilakukan? (Bila materi tentang imunisasi, maka jawaban imunisasi yang mesti dimunculkan ibu-ibu sendiri). Apa manfaat dari imunisasi pada tubuh anak?
Menyangsikan untuk meneguhkan. Kalau nanti ibu-ibu mendengar kabar burung, hoaks yang disebar orang-orang jahat, dibilang imunisasi bisa membuat anak jadi bodoh, nanti ibu-ibu tidak mau imunisasi anaknya? (Harapannya mereka semakin teguh)
Merinci untuk membayangkan. Baguslah kalau ibu-ibu semangat mengimunisasi anak. Kapan rencananya? Di mana tempatnya? Berangkatnya sama siapa? Kira-kira, pagi atau bagaimana?
Semua di atas mesti diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mumpung ibu-ibu sedang bersemangat. Jangan kelamaan. Takutnya keburu dingin lalu melempem.
Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia