Orang Tua Menantang saat Diajak Imunisasi Anak

Sumber Gambar: Gemini AI
Sumber Gambar: Gemini AI

“Kalau anaknya ga diimunisasi, nanti kena penyakit, lho!”

“Biar aja. Emang kenapa? Anak-anak gua, kok!”

Sekumpulan kader di Jakarta Barat menceritakan respon sejumlah orang tua terhadap ajakan imunisasi yang terkesan menantang. Bingung menghadapinya, waktu itu semua memilih mundur teratur.

Mempelajari singkat di tingkat permukaan, terkesan ada dua persoalan komunikasi, 1) kader terlalu mendesak, dan 2) orang tua memang outspoken.

Sepertinya halnya dalam bertransaksi, pembeli tidak suka didesak-desak apalagi diancam-ancam. Kalau pedagang bilang: “Kalau ga beli mesin cuci ini, nanti susah lho hidup, Ibu.”; kebanyakan pembeli pasti akan pergi ke lapak lain.

Mereka yang ga enakan pergi diam-diam, maksimal sambil cengar-cengir. Yang berani akan balas menanggapi. Bisa saja orang bilang, “Biasa aja kali. Situ kali yang susah hidupnya!”

Situasi komunikasi semacam di atas lazim terjadi dalam komunikasi yang melibatkan komunikator yang fokus pada solution messages atau pesan-pesan solusi (Gordon, 1975). Solution messages bersifat memberitahu apa yang harus dilakukan atau dirasakan orang, mencakup 1) order messages (lakukan ini, jangan lakukan itu), 2) warning and threatening messages (kalau tidak melakukan, nanti), 3) preaching and moralizing messages (Kita semua bertanggung jawab, orang seharusnya…), 4) advising messages (ada baiknya Anda melakukan…).

Kebanyakan orang tidak suka solution messages tapi masih bisa diterima saat hubungan antara komunikator dan komunikannya akrab.

Kalau hubungan keduanya yang akrab, tidak akan terbersit pernyataan para orang tua sebagai sebuah tantangan. Malah, bisa dipandang becandaan atau sekedar gaya-gayaan.

Karena itu, keakraban menjadi elemen penting untuk mempersuasi orang yang outspoken.

Kalau hubungan yang akrab sulit tercapai dalam komunikasi yang singkat, yang perlu dikedepankan adalah kecakapan mendengarkan. Kader mesti mendengarkan kekhawatiran orang tua terhadap imunisasi. Validasi kekhawatiran mereka. Bahkan, apresiasi hal-hal positif yang mereka sudah tunjukkan. Baru setelah itu bisa sampaika solution messages.

Kalau langsung tembak, jangan kaget orang nembak balik.


Penulis: Risang Rimbatmaja, Spesialis Perubahan Perilaku UNICEF Indonesia

Artikel Terkait

Fitur Aksesibilitas