Home > Cerita Masyarakat > Kesehatan Ibu Anak

Memanfaatkan percayanya orang pada hoaks

“Ayo, kita harus sampaikan informasi yang benar agar orang tidak termakan hoaks lagi!”

Sering saya mendengar pernyataan semacam itu. Hoaks dilawan dengan informasi yang benar. Apakah  bisa?

Orang punya apa yang disebut Pogue (2017) confirmation bias atay my-side bias. Maksudnya, orang cenderung hanya mau menerima informasi yang mendukung belief atau kepercayaan yang sudah dia pegang.  Sementara, informasi yang kontradiktif akan ditolak atau diabaikan.

Bias semacam ini sifatnya antisipatif. Sudah mulai sejak pencarian informasi. Orang akan mencari sumber-sumber informasi yang dia pikir akan sependapat dengannya dan menghindari yang tidak sependapat.

Jadi, kalau dia tahu kita adalah sumber informasi yang tidak sependapat dengannya, maka dia akan skeptis duluan. Tidak akan mendengarkan.

Kalau kita menyampaikan informasi yang tidak sejalan dengan yang dipercayai, dia akan abaikan. Saat berkomunikasi, dia akan buang perhatiannya ke hal lain.

Kalau dia percaya corona adalah konspirasi yang merusak umat manusia dan dikendalikan koorporasi, maka terkait vaksin, dia akan memilih informasi semacam vaksinasi merusak genetik manusia, yang tidak terpulihkan, dan akan menolak informasi pihak resmi.

Kalau akan ditolak, lantas untuk apa informasi benar disampaikan?

Informasi benar tentu saja diperlukan tapi tidak cukup. Yang perlu dirumuskan adalah tata caranya. Bagaimana strategi berkomunikasinya?

Ada dua yang bisa dicoba. Yang pertama, menghargai apa-apa yang orang percayai demi “membuka pagar” (sehingga dia mau mendengarkan). Kedua, memanfaatkan kepercayaan orang itu sendiri sebagai landasan untuk memasukkan pesan-pesan.

Yang pertama, diilustrasikan dalam dialog sbb.

“Vaksin itu kan memang sudah ada sebelum corona, Bu Lina. Semua ini skenario bisnis tingkat tinggi.”

“Jadi, ingin dengar ceritanya, nih. Bisnis tingkat tinggi bagaimana maksudnya, Pak Ali?”

“Iya, gara-gara corona itu perusahaan kan jadi untung besar.”

“Untung besar?”

“Iya, coba dibayangkan, kalau untung satu vaksin 100 ribu lalu kali 100 juta orang, berapa itu? 10 triliun!”

“10 triliun?”

“Iya, kan. Uang  besar banget itu?”

“Pak Ali ini luar biasa hitung-hitungannya. Dan betul, perusahaan memang harus cari untung. Tapi kalau apa itu skenario, saya punya informasi berbeda, lho. Ijin, boleh saya ceritakan?

[setelah itu, silahkan sampaikan informasi alternatif]

Yang kedua, dicontohkan cerita rekan di WAG Forum Kemisan. Dia punya rekan menghadapi rekan kerja yang tidak peduli jaga jarak dan pakai masker di kantornya. Didapati ada faktor agama mempengaruhi cara pandangnya terhadap corona. Dari pada menyalahkan apa yang dipercauai, rekan membagi video kepadanya. Video tentang kegiatan di Masjidil Haram di mana orang-orang thawaf dengan bermasker dan menjaga jarak.

Keduanya tidak konfrontatif sehingga tidak diharapkan tidak menimbulkan reaksi negatif secara instan.

Hmm, mungkin ada yang ragu. Kenapa tidak hajar saja dengan informasi yang menekan/ menakutkan? Pakai yang ekstrim?

Kalau kita kenal baik orangnya atau bahkan saudaraan, bolehlah dicoba. Tapi, harus hati-hati dan segera netralisir kalau orangnya mulai tersinggung.

Kalau kenal pun tidak, siapa lu?